Rabu, 15 Februari 2012

KUNJUNGAN KEHORMATAN DUBES AMERIKA SERIKAT UNTUK REPUBLIK MARSHAL ISLAND KE KRI DEWARUCI


Dispen TNI-AL

 
KRI Dewaruci yang merapat di pangkalan militer USAKA Kwajalein 
Republik Marshall Island pada hari Sabtu (11/2/2012), mendapatkan 
kunjungan kehormatan dari ibu Duta Besar Amerika Serikat untuk 
negara tersebut Honorable Mrs, Martha L. Campbell dan  Komandan 
pangkalan militer USAKA Colonel US Army Joseph N. Gaines. KRI 
Dewaruci, 10 Februari 2012 sekitar pukul 10.00 waktu setempat,
setelah menempuh pelayaran etape berat Jayapura-Kwajalein sekitar
 1800 mil. Kondisi cuaca, arus laut, arah angin dan ombak 
Samudera Pasifik di bulan Februari yang tidak bersahabat menyebabkan
 kedatangan KRI Dewaruci di pulau karang ini mundur 48 jam dari jadwal
 yang direncanakan.
Pangkalan USAKA merupakan daerah tertutup instalasi militer Amerika 
Serikat yang berlokasi di salah satu atol dari 34 pulau karang yang 
menjadi wilayah teritorial Republik Marshall Island di Samudera Pasifik. 
Keberadaan pangkalan militer AS di atol ini berdasarkan perjanjian kerja 
sama bilateral kedua negara.
KRI Dewaruci bersandar di atol Kwajalein untuk melakukan bekal ulang
 menambah bahan bakar dan air tawar guna melanjutkan pelayaran etape
 berikutnya Kwajelein-Pearl Harbor.
KRI Dewaruci sedang melakukan pelayaran mengikuti festival kapal layar
 internasional Operation Sail (OPSAIL) 2012 yang akan dilaksanakan 
di pantai timur Amerika Serikat atas undangan US Navy. Dalam
 rangkaian pelayaran ini, KRI Dewaruci akan melintasi samudera Pasifik, 
Atlantik dan Samudera Indonesia, akan bersandar di 21 kota pelabuhan
 di 11 negara yang meliputi empat benua Amerika, Eropa, Afrika dan 
Asia dengan total lama pelayaran 277 hari, dari sejak bulan Januari dan
 akan berakhir pada bulan Oktober 2012. 
Kunjungan Duta Besar Amerika Serikat Mrs Chambell di atas geladak
 KRI Dewaruci didampingi Atase Laut Indonesia untuk Amerika Serikat
 diterima langsung dengan jajar kehormatan oleh Komandan KRI 
Dewaruci Letkol Laut (P) Bayuseto. Kunjungan diawali dengan melihat
 suasana anjungan, haluan, buritan dan fasilitas lainnya di atas 
kapal, serta mendapatkan penjelasan dari Komandan kapal tentang 
data teknis kapal dan berbagai operasi pelayaran yang sudah dilakukan. 
Pada saat berkeliling kapal, ibu Duta Besar sempat beramah tamah 
dengan beberapa ABK yang saat itu sedang bersiap-siap akan melakukan
acara kirab kota bersama marching band dari siswa sekolah menengah 
setempat. Beliau terkesan melihat beberapa pakaian tradisional yang 
diperagakan oleh para ABK. Tidak lupa Komandan KRI Dewaruci  
mempersilakan ibu Duta Besar untuk beramah tamah di ruang tamu 
utama di buritan kapal. Dalam acara ramah tamah ini, ibu Duta 
Besar menyampaikan rasa kagum setelah mengetahui bahwa KRI Dewaruci
dibuat pada tahun 1953. Ibu Duta Besar terkesan atas sambutan yang 
ramah dari Komandan kapal beserta ABK, kagum akan bangunan kapal
yang menurut beliau sudah cukup tua, penuh nilai seni namun masih 
mampu melakukan pelayaran dengan waktu yang cukup lama. Pada 
kesempatan tersebut, Komandan KRI Dewaruci menyampaikan undangan
kepada ibu Duta Besar Mrs Chambel beserta jajaran pejabat pangkalan 
militer USAKA untuk sarapan pagi bersama di kapal, mencicipi nasi 
goreng spesial yang disuguhkan juru masak KRI Dewaruci.
Berdasarkan pertimbangan kondisi cuaca yang akan dihadapi pada
rute pelayaran selanjutnya, Komandan KRI Dewaruci memutuskan bahwa
rencana kapal sandar di Kwajalein hanya satu malam.
Hari Sabtu, 11 Februari 2012, jam 15.00 waktu setempat KRI Dewaruci
melakukan peran muka belakang. Kapal siap kembali berlaya menghadapi 
tantangan Samudera Pasifik dalam route pelayaran etape Kwajalein-Pear
Harbor.
Merupakan suatu kehormatan bagi KRI Dewaruci, Komandan kapal dan 
segenap ABK dapat menerima kunjungan Duta Besar Amerika Serikat untuk
Republik Marshall Island di atas kapal. Semoga kunjungan KRI Dewaruci 
di pangkalan militer USAKA Kwajalein dapat memberi makna untuk semakin
mempererat hubungan bilateral kedua negara, Indonesia dan Amerika Serikat.
 

LALUI TANTANGAN BERAT MELINTASI SAMUDRA PASIFIK, KRI DEWARUCI TIBA DI KWAJALEIN


 

Kedatangan KRI Dewaruci pada pelayaran OPSAIL 2012 etape Jayapura-
Kwajalein dipastikan mundur sekitar 48 jam dari waktu yang direncanakan.
 Hal ini diketahui dari hasil kontak komunikasi telepon satelit yang dilakukan 
Perwira Operasi United State Army Kwajalein Atoll (USAKA) pangkalan 
militer angkatan darat AS di Kwajalein, Republik Marshal Island pada Rabu,
 8 Februari 2012 sekitar jam 11.00 waktu setempat.
Posisi kapal saat itu dilaporkan masih berada pada jarak sekitar 160 mil 
menuju Kwajalein dengan haluan 65 derajat. Kondisi cuaca, arus laut dan
 arah angin dilaporkan tidak bersahabat menjadikan kapal hanya mampu 
melaju sekitar 2-3 knot dari kecepatan rencana 7 knot. Pantauan pengawas
 pelabuhan pangkalan militer USAKA menunjukkan cuaca di Samudera Pasifik
 saat itu berawan dengan hujan merata, angin dari timur-timur laut bergerak 
ke barat dengan kecepatan sekitar 20-25 knot. Tinggi ombak di pantai antara
 3-7 meter dan di laut terbuka diperkirakan mencapai 7-15 meter.
Lintasan Samudera Pasifik pada etape Jayapura-Kwajalein menjadi sebagian 
tantangan terberat pelayaran KRI Dewaruci dalam route menuju perairan
 pantai timur Amerika Serikat guna mengikuti festival internasional kapal layar 
Operation Sail (OPSAIL) pada musim panas tahun ini. KRI Dewaruci bertolak 
dari Jayapura pada tanggal 28 Januari 2012 menuju atol Kwajalein.
Setelah menempuh pelayaran sekitar 13 hari dengan cuaca dan ombak
Samudera Pasifik yang tidak bersahabat, pada hari Jumat, 10 Februari 2012
sekitar jam 10.00 waktu setempat, KRI Dewaruci merapat di dermaga “Echo”
pangkalan angkatan darat USAKA. Pangkalan USAKA merupakan daerah
tertutup instalasi militer Amerika Serikat yang berlokasi di salah satu atol
atau pulau karang di wilayah Republik Marshall Island, Samudera Pasifik.
Tujuan  utama kedatangan KRI Dewaruci di Kwajalein adalah untuk bekal ulang
 menambah bahanbakar dan air tawar guna melanjutkan pelayaran etape berikutnya
 Kwajelein-Honolulu. Pangkalan militer USAKA menjadi pintu masuk KRI Dewaruci
 dalam pelayaran
 menjelajahi wilayah perairan yang menjadi otoritas pemerintah Amerika Serikat. 
Untuk masuk ke wilayah pangkalan militer ini, KRI Dewaruci harus terlebih dahulu 
dilengkapi dokumen “diplomatic dan security clearance” yang dikeluarkan Kementerian
 Luar Negeri dan Kementerian Pertahanan Amerika Serikat.
Satuan Angkatan Darat USAKA sudah mempersiapkan dermaga “Echo” dengan 
berbagai keperluan sandar yang akan dibutuhkan oleh kapal. Siaran televisi lokal 
US AFN (United State Armed Forces News) dengan terpaksa memberitakan kepada 
masyarakat tentang keterlambatan kedatangan KRI Dewaruci yang disebabkan karena
 faktor cuaca.
Masyarakat Kwajalein sebenarnya sudah menunggu sejak dua hari lalu untuk menyambut
 kedatangan kapal layar ini. Kontak dari perwira penghubung angkatan darat AS melalui 
telepon dan email sudah dilakukan intensif sekitar dua minggu sebelum rencana kapal
 datang. Kontak dilakukan langsung dari pangkalan militer USAKA di Kwajalein dengan
 Kantor Atase Pertahanan KBRI Washington DC. Mereka bertanya tentang kebutuhan 
bekal ulang yang akan diperlukan kapal, dan melakukan koordinasi menyusun acara
 yang akan diselenggarakan bersama selama kapal sandar.
Meskipun lokasi pangkalan militer USAKA jauh terpencil di tengah-tengah samudera 
Pasifik, namun kondisi geografis ini tidak menjadi kendala terhambatnya komunikasi 
antara Kwajalein-Washington DC untuk menyiapkan kunjungan KRI Dewaruci di atol ini.
Perlu diketahui bahwa atol Kwajalein berada di tengah-tengah antara Guam dan 
Hawaii yang berjarak sekitar 1600-2200 mil. Dapat dikatakan bahwa Kwajalein adalah
 salah satu pulau terdepan atau terluar bagi negara Amerika Serikat. Untuk menuju 
atol Kwajalein dapat ditempuh dengan penerbangan komersial dari ibu kota 
Washington DC, dengan waktu antara 16-20 jam melalui Honolulu atau Guam dengan
 jadwal penerbangan yang berbeda-beda dan tidak tersedia jadwal penerbangan setiap
 harinya.
Dari hasil koordinasi dengan otoritas pelabuhan serta pertimbangan kondisi cuaca yang
 akan dihadapi dalam route pelayaran selanjutnya, Komandan KRI Dewaruci Letkol
 Laut (P) Bayuseto memutuskan untuk rencana kapal bersandar di pangkalan militer
 USAKA hanya satu malam saja dengan prioritas kegiatan bekal ulang.
Begitu lambung kapal merapat di dermaga, tali-tali selesai diikat pada bolder dermaga
 dan reling pagar dibuka serta tangga dikeluarkan, segera Komandan KRI Dewaruci turun
 ke dermaga menemui pejabat militer USAKA dan melapor kepada Atase Laut bahwa
 kapal dalam keadaan aman baik personel dan material serta siap melakukan bekal ulang.
Komandan KRI Dewaruci mendapatkan sambutan selamat datang dengan pengalungan
 bunga. Sambil menunggu waktu dimulainya pengisian bahan bakar, semua ABK kecuali 
dinas jaga turun ke dermaga untuk hadir dalam acara makan siang bersama di fasilitas
 “dining hall” pangkalan militer USAKA. Hal ini dimaksudkan agar ABK dapat menikmati 
cita rasa masakan yang berbeda dari masakan yang sehari-hari disajikan di kapal.
 Selesai acara makan siang bersama, seluruh ABK kembali ke kapal untuk melakukan
 ibadah sholat Jumat di geladak.    
Dermaga “Echo” USAKA memang sudah disiapkan untuk mendukung segala kebutuhan
 KRI Dewaruci. ABK Departemen Mesin sudah menyambungkan nozzle pipa penyaluran
 bahan bakar untuk memindahkan HSD dari bunker dermaga ke tangki kapal dengan
 norma penuh. ABK lain terlihat mengawasi pemindahan drum-drum ke atas geladak yang
 berisi bahan bakar cadangan sebagai tambahan. Proses pengisian bahan bakar ini 
diselesaikan dalam waktu sekitar dua jam lebih.
Pangkalan militer USAKA juga menyediakan fasilitas rumah sakit bagi ABK Dewaruci 
yang memerlukan. Terdapat dua orang ABK yang memanfaatkan fasilitas ini untuk
 berobat di klinik gigi. Namun demikian secara umum kondisi personel ABK Dewaruci 
dalam keadaan sehat. Selesai kegiatan bekal ulang bahan bakar, selanjutnya ABK 
Dewaruci mempersiapkan diri untuk mengikuti acara di darat.
Rangkaian acara di darat untuk menyambut kedatangan KRI Dewaruci merupakan ajang
 sarana rekreasi dan interaksi sosial antara ABK dengan personel angkatan darat 
pangkalan militer USAKA dan masyarakat di sekitar atol Kwajalein. Beberapa acara
 harus dibatalkan karena singkatnya waktu sandar kapal, diantaranya nonton film 
bareng dan resepsi cocktail di atas kapal. Meskipun demikian, masyarakat tetap
 antusias untuk melihat KRI Dewaruci dan melakukan interaksi dengan ABK. Hal ini
 terlihat dari partisipasi kehadiran mereka dalam acara kirab di sore hari dan olah raga
pertandingan sepak bola persahabatan. Kegiatan kirab berlangsung meriah dipandu 
oleh marching band dari para siswa sekolah menengah setempat. Pasukan kirab yang
 terdiri dari ABK dengan berbagai pakaian adat tradisional yang dipandu marching band
 bersama masyarakat bergerak menuju lapangan dan taman pantai dimana acara 
pertandingan sepak bola persahabatan dan makan malam bersama akan dilaksanakan. 
Masyarakat membawa makanan masing-masing, mereka saling bertukar makanan untuk
 disantap bersama-sama. Dalam acara ini, ABK KRI Dewaruci menyuguhkan pula 
beberapa sajian snack yang dibawa dari kapal dan menampilkan beberapa atraksi 
kesenian yang membuat suasana makan malam tersebut berlangsung hangat dan akrab.        
Pada hari Sabtu, 11 Februari 2012, KRI Dewaruci menyelenggarakan acara open ship 
bagi masyarakat yang ingin mengetahui situasi dan keadaan di dalam kapal. Acara open
 ship kunjungan ke kapal dimulai sejak jam 08.00 pagi. Dalam kesempatan itu Komandan
 KRI Dewaruci mengundang Duta Besar Amerika Serikat untuk Republik Marshal Island, 
Mrs Martha L. Campbell dan Komandan USAKA Colonel US Army Joseph N. Gaines untuk
 sarapan pagi bersama di long room KRI Dewaruci. Sementara di geladak kapal, 
masyarakat dari sejak pagi sudah dipersilakan naik ke kapal untuk melihat suasana 
anjungan, haluan, buritan dan fasilitas lainnya di atas kapal, serta mendapatkan
 penjelasan dari ABK tentang data teknis kapal. Bunyi lonceng kapal enam kali pada jam
 12.00 waktu setempat, diikuti suara peluit Bintara Jaga dan penghormatan dari jajar 
penjagaan kepada rombongan tamu saat mereka keluar kapal, menjadi tanda berakhirnya 
acara kunjungan kapal pada hari itu.   
Sesuai rencana, KRI Dewaruci dijadwalkan akan bertolak pada jam 15.00 waktu 
setempat. Dengan berat hati ABK Dewaruci harus meninggalkan keramahan masyarakat 
atol Kwajalein, khususnya kesatuan Angkatan Darat AS di pangkalan militer USAKA yang
 telah memberikan dukungan penuh selama kapal sandar di atol ini.   KRI Dewaruci sandar
 di Kwajalein kurang dari 30 jam karena harus mengejar jadwal waktu pelayaran etape
 selanjutnya Kwajalein-Pearl Harbor. Etape ini akan berjarak sekitar 2.200 mil dengan 
rencana waktu tempuh 13 hari.  Tantangan cuaca dan ombak Samudera Pasifik di 
bulan Februari yang belum bersahabat masih akan dihadapi.  
Diharapkan kapal layar KRI Dewaruci dapat tiba di Pearl Harbor sesuai rencana 
jadwal pelayaran sehingga dapat bertemu dengan para “Friends of Dewaruci” yang
 sudah menunggu di sana. Sampai jumpa Kwajalein dan terimakasih USAKA, KRI Dewaruci
 akan melanjutkan pelayaran etape berikutnya.    
Dukungan penuh dari pangkalan militer angkatan darat USAKA dalam kunjungan KRI
 Dewaruci di Kwajalein memberi makna eratnya hubungan kerjasama militer kedua 
negara. Selamat berlayar KRI Dewaruci,  kibarkan bendera kewajiban. 
(Dispenal/Atal-AS 2012)

Senin, 13 Februari 2012

KRI Dewaruci Disambut Hangat di Kwajalein


 I Made Asdhiana | Senin, 13 Februari 2012 | 21:55 WIB



WWW.INDONESIA.TRAVELAntusiasme masyarakat Kwajelein, Amerika Serikat menyambut kedatangan awak KRI Dewaruci.


KOMPAS.com — Pukul 10.30 waktu setempat (Jumat, 10/2/2012), akhirnya KRI Dewaruci bersandar di Pangkalan Kwajalein, Amerika Serikat. Kapal layar legendaris ini telah menempuh jarak sejauh 1.794 mil dari Dermaga Porasko, Jayapura. Setibanya di Pangkalan Kwajalein, awak KRI Dewaruci disambut tentara US Army Kwajalein yang dikomandani Kolonel Joseph N Gaines.
Laporan langsung Kapten Laut (KH) Sapto Budiarso untuk www.indonesia.travel menyebutkan bahwa KRI Dewaruci mengalami kemunduran jadwal tiba dua hari dari yang diperkirakan. Sesampainya di Dermaga Kwajalein, awak KRI Dewaruci dipandu Atase Pertahanan Indonesia untuk AS, Kolonel Laut (KH) Anwar Saadi, dan beberapa tentara US Army. Setelah acara sambutan kemudian dilanjutkan dengan makan siang bersama.
Komandan KRI Dewaruci Letkol Laut (P) Haris Bima Bayuseto menjelaskan bahwa selain muhibah mengelilingi dunia dan Kartika Jala Krida (KJK), Kadet AAL 59 KRI Dewaruci juga mengusung misi promosi dan pencitraan pariwisata Indonesia, yaitu ”Wonderful Indonesia”.
KRI Dewaruci akan menyinggahi 21 negara di Asia, Afrika, Amerika Serikat, dan Eropa. Muhibah kali ini mencatat rekor jarak tempuh terjauh dan waktu pelayaran terlama sekaligus yang terakhir karena kapal tersebut segera dipensiunkan.
Pelayaran KRI Dewaruci di edisi ke-59 dan usianya yang ke-60 tahun ini dapat dikatakan luar biasa karena pelayaran diperkirakan memakan waktu 277 hari sejak 15 Januari hingga 16 Oktober 2012. Rute muhibahnya adalah sebagai berikut: Surabaya-Jayapura, Jayapura-Kwajalein (AS), Kwajalein-Honolulu (AS), Honolulu-San Diego (AS), San Diego-Manzanillo (Meksiko), Manzanilli-Panama, Panama-New Orleans (AS), New Orleans-Miami (AS), Miami-Charleston (AS), Charleston-New York (AS), New York-Norfolk (AS), Norfolk-Baltimore (AS), Baltimore-Boston (AS), Boston-St Yohanes (Kanada), St John-Porto (Portugal), Porto-Cádiz (Spanyol), Cadiz-Malta, Malta-port Said (Mesir), Port Said-Jeddah (Arab Saudi), Jeddah-Salalah (Oman), Salalah-Kolombo (Sri Lanka), Kolombo-Belawan (Indonesia), Belawan-Jakarta, Jakarta-Surabaya.
Pelayaran selama 277 hari yang diarungi KRI Dewaruci mencakup empat benua dan menjadikan Indonesia sebagai bagian dari sedikit negara di dunia ini yang angkatan lautnya masih mempertahankan tradisi mengarungi lautan dunia dengan kapal layar. Terlebih yang membanggakan bahwa kini hanya Dewaruci yang masih mengarungi lautan karena dua di antara tiga kapal layar seangkatan Dewaruci telah bebas tugas, satu tenggelam di dasar laut, satunya lagi telah masuk museum.
KRI Dewaruci yang dibuat tahun 1953 oleh HC Stolcken Soch (Jerman) memiliki 16 layar berbagai ukuran dengan luas layar 1.091 meter persegi, panjang kapalnya 58,30 meter, lebar 9,50 meter, draft 4,5 meter, dan berat 874 ton, memiliki kecepatan mesin 10,5 knot dan kecepatan layarnya 9 knot. KRI Dewaruci bertugas  sebagai wadah pelatihan bagi taruna untuk menguasai keterampilan navigasi, terutama astronomi untuk palayaran dan penguasaan operasional Angkatan Laut. Kapal layar tiang tinggi ini merupakan satu-satunya kapal yang dimiliki dan dioperasikan oleh TNI Angkatan Laut.
Sore harinya, Kartika Jala Krida (KJK) Kadet angkatan ke-59 KRI Dewaruci melakukan kirab kota dan pertandingan persahabatan sepak bola dengan US Army Kwajalein. Pukul 20.00 waktu setempat dilanjutkan makan malam bersama Komandan US Army di Kave Kwajalein, Kolonel Joseph N Gaines.

Pagi harinya (Sabtu, 11/2/2012) setelah makan pagi bersama di long room perwira KRI Dewaruci, acara dilanjutkan dengan openship hingga pukul 12.00 waktu setempat. Akhirnya, pukul 14.00 waktu setempat, KRI Dewaruci kembali membentangkan layarnya untuk mengelilingi dunia dengan tujuan berikutnya adalah Honolulu. Perjalanan diperkirakan memakan waktu 13 hari apabila cuaca normal.(HIM
)

Minggu, 12 Februari 2012

KRI Dewaruci Akhirnya Selesaikan Etape Kedua


Badai Hantam Mundur Dewaruci
 Padang Ekspres • Senin, 13/02/2012 12:09 WIB • (sep/c11/ca/jpnn) • 15 klik
HANGAT: Bocah enam tahun Andrian Peterson mengalungkan bunga kepada Komandan KRI
Perjuangan kru KRI Dewaruci menyelesaikan etape kedua dari Jayapura ke Kwajalein, Amerika Serikat (AS), diwarnai taruhan nyawa. Kapal bisa sandar setelah menerjang badai dan menghindari koral dangkal selama dua hari.

JARUM jam di dinding anjungan KRI Dewaruci Jumat (10/2) lalu hampir mendekati pukul 10.00 waktu setempat (selisih lima jam dengan WIB). Ketika itu Pelabuhan Kwajalein di Kepulauan Marshal sudah terlihat setelah KRI Dewaruci melintasi Selat Ralik. Dibutuhkan perjuangan keras untuk mendekati kepulauan yang berdiri di gugusan karang tersebut. Jika tidak jeli, bagian bawah kapal (draft) sedalam 4,5 meter di bawah permukaan air bisa kandas di koral yang terbentang di antara kepulauan tersebut.

Berdasar informasi yang diterima JPNN, KRI Dewaruci sebelum masuk Selat Ralik menerjang badai. ”Kapal justru bergerak mundur sampai -1 knot,” ungkap Asisten Kepala Divisi Layar Letda Laut (P) Bayu Wirawan. Badai itu membuat perjalanan KRI Dewaruci mendekati daerah yang menjadi pangkalan militer AS tersebut makin jauh. Rencana kapal legendaris berumur 60 tahun itu sandar pada Rabu lalu (8/2) akhirnya molor. Bahkan, keterlambatan pertama KRI Dewaruci dalam pelayaran 2012 itu sampai dua hari.

Agenda menyinggahi Kwajalein selama tiga hari akhirnya dipangkas sehari. Sisa waktu dua hari digunakan untuk mengisi bahan bakar dan logistik awak kapal. Selebihnya dioptimalkan untuk beberapa acara persahabatan. Antara lain, acara bersama US Navy (Angkatan Laut AS) dan penduduk setempat. Selama sandar, awak kapal layar latih TNI-AL itu disambut sederhana oleh sejumlah perwira.
Yakni, Atase Pertahanan (Athan) Laut RI di Washington Kolonel Laut (KH) Anwar Saadi dan beberapa perwira US Navy yang sedang bertugas di Kwajalein, antara lain Mayor Mills dan Mayor Parrish.

”Kami di Kwajalein mulai Rabu lalu. Itu berdasar rencana Dewaruci tiba,” tutur Anwar kepada Bintara Dinas Penerangan Armatim Serka Mes Ahmad Darowi. Karena terkendala ombak tinggi dan badai di Samudra Pasifik, ke datangan kapal yang dikomandani Letkol Laut (P) Haris Bima Bayuseto dengan awak kapal 77 orang itu tertunda. Sebelum kapal sandar itu, sebuah speedboat polisi perairan  membawa Anwar dan dua perwira US Navy tersebut.

Mereka mengisyaratkan KRI Dewaruci merapat di dermaga. Setelah KRI Dewaruci sandar sempurna, Bima turun serta menyalami Anwar, Mills, dan Parrish. Kemudian, muncul bocah laki-laki bernama Andrian Peterson. Dia membawa untaian bunga kemboja, lalu mengalungkannya kepada Bima. Setelah itu, rombongan penyambut meninjau dengan menuju anjungan.
Selama di Kwajalein, para awak kapal yang tergabung dalam satuan tugas (satgas) muhibah internasional dan misi Kartika Jala Krida itu diagendakan melakukan sejumlah kegiatan. Antara lain, kirab kota, barbecue party, dan sepakbola persahabatan. Olahraga bersama itu dilakukan US Navy dengan menjamu awak KRI Dewaruci.

”Tradisi itu seperti yang pernah dilaksanakan dalam pelayaran edisi 2007,” ungkap Bintara Utama Peltu Sba Yohanes Satoro yang sudah 22 tahun berlayar dengan KRI Dewaruci. Tidak jauh dari dermaga setelah kirab kota, digeber berbagai jenis hiburan yang menampilkan US Navy dan band KRI Dewaruci hingga pukul 21.00.
Para anak buah kapal Dewaruci turut unjuk kebolehan kesenian tradisional. Antara lain, tarian rantak budaya Minangkabau dan remo dari Jatim. Masyarakat Kepulauan Marshal pun diperkenankan mengunjungi KRI Dewaruci dalam open ship yang dijadwalkan hari ini mulai pukul 09.00 hingga 15.00.(sep/c11/ca/jpnn)
[ Red/Redaksi_ILS ]

Jumat, 10 Februari 2012

Dihadang Cuaca Ekstrem, KRI Dewaruci Telat Tiba di Kwajalein


Kerja Keras Taklukkan Ombak Setinggi 10 Meter
 Padang Ekspres • Jumat, 10/02/2012 11:38 WIB • Suryo Eko P—Surabaya • 22 klik
Kerja Keras: ABK KRI Dewaruci berusaha membuka layar untuk menambah kecepatan da
Etepe kedua dari Jayapura menuju Kwajalein, Kepulauan Marshal, Amerika Serikat (AS), benar-benar menjadi medan berat bagi KRI Dewaruci. Kapal legendaris berusia 60 tahun itu harus bertarung melawan ombak ganas dan cuaca ekstrem.

Hambatan cuaca membuat laju KRI Dewaruci tidak sesuai rencana. Menurut rencana, kapal latih TNI-AL itu tiba di Kwajalein, Kepulauan Marshal, Amerika Serikat (AS), Rabu (8/2). Estimasi itu didasarkan perjalanan sebelas hari nonstop dari Jayapura, Papua, sejak 28 Januari lalu.

Hingga tadi malam kapal masih berjalan lirih mendekati gugusan kepulauan yang menjadi pangkalan militer Amerika Serikat itu. Berdasar laporan staf Dinas Penerangan Mabes TNI-AL Kapten Laut (KH) Sapto Budiarso, cuaca ekstrem Samudera Pasifik sejak akhir pekan menyebabkan Dewaruci tidak bisa mencapai kecepatan rata-rata 7 knot. Kecepatan setara 15 kilometer per jam itu bisa dicapai jika cuaca bersahabat.

Apalagi, jalur kapal menuju timur laut itu kontradiktif dengan arah angin yang berasal dari barat laut. Angin yang menerpa lambung kapal mengakibatkan kecepatan Dewaruci mundur dari 6 knot menjadi 5 knot. “Air laut sering memenuhi geladak utama karena ombak bergulung hingga 6 sampai 10 meter,” tutur Sapto.

Jika sesekali arah angin berbalik mendorong Dewaruci, komandan kapal Letkol Laut (P) Haris Bima Bayuseto tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dia memerintahkan anak buah kapal melaksanakan peran layar. Dua layar penopang bawah dan penopang atas pada tiang Bima (tiang depan) dibuka.

Kombinasi mesin dan angin membuat kecepatan kapal meningkat 7 knot. Kemudian, tidak sampai tiga jam, angin berbalik arah. Kru kapal yang bersusah payah mengembangkan layar secara manual kembali harus menggulung layar. “Goyangan kapal semakin keras karena hujan deras saat layar belum tertutup sempurna,” cerita Sapto

Kondisi pelayaran tidak bersahabat Samudera Pasifik diakui Komandan Satban Koarmatim Kolonel Laut (P) Herman Prasetyo. “Ketika masih kadet tingkat III/1986, menuju Kwajalein sangat ekstrem. Wajar kalau terlambat,” ungkap Herman.

Untuk mengantisipasi dampak keganasan Samudera Pasifik menuju Kwajalein pada 26 tahun silam, pelayaran dari Bitung kala itu tidak langsung ke Kwajalein. Mereka transit ke Guam dulu.

Kru Dewaruci butuh nyali tinggi, mengingat itu pelayaran perdana via Kwajalein. Setelah mengisi perbekalan kapal dan logistik untuk kebutuhan dua minggu berlayar, Dewaruci melanjutkan perjalanan ke gugusan kepulauan di laut lepas tersebut.

Selanjutnya, kapal melaju ke Pearl Harbor, San Diego, Acapulco (Meksiko), melintasi Panama hingga Baltimore, dan New York pergi pulang (PP). Molornya duga waktu datang (DWD) dalam pelayaran Dewaruci diupayakan tidak merembet bagaikan efek domino seperti dalam maskapai penerbangan.

Selain memangkas jumlah rata-rata sandar, komandan kapal dapat memperhitungkan waktu dengan menambah kecepatan kapal. Selama tiga hari sandar, Dewaruci pada dua hari di antaranya menggelar open ship untuk masyarakat umum. (***)
[ Red/Redaksi_ILS ]

Rabu, 08 Februari 2012


Arungi Ombak Besar Samudra Pasifik Menuju Kwajalein, AS
Cuaca Ekstrem, Makan Mie Instan tanpa Dimasak
 Padang Ekspres • Rabu, 08/02/2012 11:55 WIB • Suryo Eko P—Pasifik • 62 klik
Makan Pecel: Juru senjata Kopda Bah Yuli Wibowo, bintara utama Peltu Sba Yohanes
Kalimat The Challenge Begins in Here di poster lintasan pelayaran KRI Dewaruci 1953–2012 yang dipasang di depan pantri sebelah lounge perwira, agaknya, pas untuk menggambarkan kondisi terkini pelayaran Dewaruci.

Sejak meninggalkan perbatasan Indonesia di sisi timur menyisiri utara Papua Nugini, Dewaruci yang melintasi laut lepas Samudra Pasifik selalu akrab dengan hantaman ombak. Saat cuaca bersahabat, tinggi gelombang pun bisa mencapai 5 meter. Jika terjadi badai, ketinggian ombak kadang 2–3 kali lipatnya. Kapal berumur hampir enam dasawarsa itu pun berjalan terombang-ambing mengikuti alunan ombak besar di salah satu samudra terganas.

Suatu kondisi yang tidak mudah bagi siapa pun. Sekalipun, para awak kapal sejatinya sudah terbiasa berlayar. Namun, menurut Panglima Armatim Laksda TNI Ade Supandi, komunikasi dengan awak Dewaruci melalui hubungan satelit Inmarsat di kapal relatif normal. ”Saya tadi bisa telepon ke kapal. Mereka mengabarkan cuaca di lautan Pasifik (Samudra Pasifik) masih bagus,” kata Ade.

Selain menuju Kwajalein yang sudah lebih dari separo perjalanan, dua kota di Negeri Paman Sam berikutnya adalah Honolulu dan San Diego. Pada pelayaran sebelumnya, kapal tiga tiang tinggi itu sejak berlayar perdana 1953 terhitung sedikitnya sudah tiga kali singgah pergi pulang (PP) ke Kwajalein dalam muhibah internasionalnya.

Kapal layar latih TNI-AL tersebut sandar di gugusan kepulauan tengah laut lepas kali pertama pada 1986 yang dikomandani Letkol Ripa Gamhadi. Rutenya menyisir Guam menuju Pearl Harbor PP. Kemudian, di bawah komando Letkol Darwanto pada 2000 dari Sorong ke Honolulu PP. Selanjutnya, pada 2007 saat Dewaruci dipimpin Letkol Sutarmono dari Jayapura ke Honolulu PP.

Di tangan komandan sekarang, Letkol Laut (P) Haris Bima Bayuseto, Dewaruci hanya sekali sandar (tidak PP) seperti tiga pelayaran sebelumnya. Pada edisi keliling dunia pertama 1964 silam, pelayaran tidak melewati Kwajalein.

Ketika itu, rute di Samudra Pasifik melalui San Diego–Honolulu–Midwai–Jayapura. ”Itulah yang membedakan misi tahun ini dianggap terjauh dan terlama. Kalau ditafsir, perjalanan kami sekarang memutari satu sepertiga keliling bumi,” tutur Bima.

Dengan total waktu berlayar 277 hari atau hampir 10 bulan ter ombang-ambing gelombang, pemandangan sebagian awak kapal mabuk laut maupun muntah termasuk lumrah. Suatu kelaziman manusia memang tinggal di darat.

Dampak goyangan Samudra Pasifik maupun ombak yang cenderung kurang bersahabat, menurut dokter kapal Lettu Laut (K) dr Bangun Pramujo, membuat selera makan menurun. Akibatnya, daya tahan fisik juga menurun. Parameter jika ombak ekstrem, para juru masak biasanya angkat tangan. Aktivitas masak-memasak distop.

Kepala Urusan Perbekalan Sertu Bek Aunu Rofik mengungkapkan, kegiatan masak di dapur mandek demi menjaga keselamatan juru masak dari sengatan panas panci dan kompor yang posisinya tidak stabil. “Biasanya, kalau kami sudah angkat tangan, mereka bertahan dengan makanan keringan,” terang Rofik. Gelagat dampak perut bakal dikocok sepanjang perjalanan Samudra Pasifik sudah terlihat ketika Dewaruci sandar di Jayapura.

Meski masing-masing personel sudah dibekali satu kaleng besar (seukuran kaleng kotak panjang minyak) kabindo, biskuit manis padat ala TNI, beberapa awak kapal yang kurang persiapan makanan dari kota pemberangkatan pertama Surabaya terlihat memborong makanan instan. Misalnya, mi instan, aneka biskuit asin, dan minuman ringan. ”Biskuit asin bisa menetralkan rasa mual,” kata Juru Penerangan Dispen Armatim Sertu Mes Ahmad Darowi.

Kesibukan lain terlihat dilakukan juru pantri. Para kelasi dan tamtama bagian itu memasak dengan cara memasukkan air panas ke dalam bungkus mie instan. Langkah itu lebih praktis daripada memasak dalam panci di atas kompor listrik. Bahkan dalam kondisi cuaca ekstrem, mie instan langsung dimakan tanpa dimasak dulu. Alhasil, makanan instan tersebut laris manis.

Bagi sebagian besar awak Dewaruci yang sudah beberapa kali berlayar melewati samudra ganas dan ditempa dalam kondisi sulit di dalam kabin kapal, ”puasa” mereka saat ombak tidak bersahabat terbayar begitu kapal sandar. Di kota-kota besar dunia yang dikunjungi itu, mereka melepas penat agar kembali segar dan melanjutkan pelayaran. (***)
[ Red/Redaksi_ILS ]

Waduh, KRI Dewaruci Diterjang Gelombang, Jadwal Ketibaan Pun Molor



indonesia.travel
Waduh, KRI Dewaruci Diterjang Gelombang, Jadwal Ketibaan Pun Molor
KRI Dewaruci


Rabu, 08 Pebruari 2012 11:56 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, Akibat cuaca yang tidak menentu, KRI Dewaruci yang melaju dari Jayapura ke Kwajelein (USA) mulai menghadapi tantangan. Seperti dilaporkan Kapten Laut Sapto Budiarco, cuaca yang tidak menentu dan goyangan kapal akibat gelombang bahkan membuat air pun ikut naik ke geladak. Akan tetapi, hal ini tetap tidak menyurutkan semangat mereka dalam mengemban tugas mempromosikan pariwisata Indonesia. KRI Dewaruci meninggalkan Dermaga Satrol Lantamal X, Jayapura (30/1) dilepas oleh Gubernur Papua Syamsul Aziz untuk menuju Kwajelein (USA).
Akibat cuaca yang tidak menentu dan angin kencang, KRI Dewaruci yang dijadwalkan tiba di Kwajelein (USA) pada Rabu (8/2) harus mengalami kemunduran jadwal. Di hari keenam atau pada Kamis (2/2), KRI Dewaruci melaju dengan kecepatan 7 knot dengan mesin maju 550 RPM, kecepatan angin Barat barat laut adalah 14 knot. 
Hingga hari itu kapal legendaris Indonesia ini sudah menempuh separuh jarak dari Jayapura ke Kwajelein (USA) sejauh 1.794 mil.
Kemunduran jadwal tiba di Kwajelein (USA) itu karena kecepatan kapal rata-rata yang mengalami kemunduran dari 6 knot menjadi 5 knot sejak lepas dari Jayapura. Komandan KRI Dewaruci Letkol Laut (P) Haris Bima Bayuseto kemudian memerintahkan agar melaksanakan ‘peran layar’ dimana dibukanya dua layar (penopang bawah dan penopang atas) agar kecepatan kapal bertambah menjadi 7 knot.
 Akan tetapi, tiga jam kemudian kecepatan kapal sepakin lambat menjadi 4 knot, ternyata angin berbalik arah. ABK yang susah payah melawan mual di perut, pusingnya kepala dan rasa tak enak yang menyelimuti mulai mulut hingga rongga tenggorokan. Namun, itu tidak menjadi penghalang untuk melaksanakan tugas mulia negara. Dengan sigap, ABK melepas layar meski cuaca dalam kondisi hujan dan goyangan kapal semakin keras. Ditutupnya layar kembali membuat kecepatan kapal menjadi 6,5 knot.
 Hingga Kamis (2/2), layar masih mengembang dengan kecepatan antara 7 hingga 7,5 knot. Pada Sabtu sore (4/2), cuaca hujan di Samudera Pasifik, angin kencang menerpa hingga kecepatan kapal lebih dari 30 knot dari arah timur timur laut serta gelombang laut mencapai 6 meter hingga Minggu (5/2).
 Ahad pagi pukul 10.00 pada koordinat 6'09.137-159'25.300 KRI Dewaruci terombang-ambing di Samudera Pasifik. Mesin maju 600 RPM yang secara normal kecepatan kapal adalah 7 sampai 8 knot tetapi kali ini kecepatan kapal hanya 2 knot. Kecepatan kapal menurun menjadi 2 knot sedangkan mesin tetap stabil, ini karena laju kapal melawan arah angin ditambah lagi dengan gelombang laut yang cukup tinggi.
“Dengan gelombang laut yang tinggi mengakibatkan jalannya kapal nyungsep-nyungsep (kapal bergoyang-goyang hingga haluan masuk ke laut), semoga dengan sisa jarak tempuh Jayapura-Kwajelein yaitu 623 mil ini dapat kita lewati dengan lancar dan kembali lagi ke Indonesia Oktober mendatang dalam keadaan sehat,'' ujar Letda Laut (P) Bayu Indra Wirawan, selaku Perwira Jaga dan Perwira alumni AAL angkatan ke-55 sambil berdiri gagah di anjungan KRI Dewaruci.
 Seperti hari-hari sebelumnya saat libur hari Sabtu dan Ahad, ABK KRI Dewaruci melewatkan hari dengan memancing atau menonton film. Akan tetapi, berbeda dengan akhir pekan kali ini dimana tidak terlihat aktivitas apa pun yang dilakukan ABK yang tidak sedang berdinas kecuali hanya duduk-duduk dan tidur-tiduran saja hanya untuk menahan kondisi mulut yang terasa pahit, perut seperti di kocok-kocok dan kepala puyeng.
Meskipun demikian, mereka tetap menjalankan tugasnya bahkan dalam kondisi hujan dengan mengenakan jas hujan di depan kemudi sambil mengecek segala sesuatu yang ada di geladak, baik layar, tali temali, hingga tenda. Selain itu, yang lebih penting adalah perintah dari perwira jaga agar halu kapal yang tidak boleh berubah sedikitpun karena akan memengaruhi track kapal menuju pangkalan Kwajelein (USA).
 “Mau badai, mau hujan es kalau sedang jaga ya tetap harus jaga,'' ungkap Serda Bah Umar Sabat, sambil memegang kemudi kapal. “Semoga perjalanan KRI Dewaruci selalu dalam lindungan Yang Maha Kuasa,'' tambah pria berkumis tebal asal Kupang tersebut sambil tersenyum.
 Selain keliling dunia dan Kartika Jala Krida (KJK) Kadet angkatan ke-59, KRI Dewaruci juga membawa misi promosi pariwisata ke luar negeri, terlihat di ruang kadet terdapat alat-alat kesenian tradisional, pakaian tari, drum band dan alat musik lainnya. Rencananya di Kwajelein (USA) akan dilaksanakan kegiatan kesenian dan olahraga persahabatan antara tentara angkatan darat Kwajelein (USA) dan ABK KRI Dewaruci.
Redaktur: Endah Hapsari