Rabu, 08 Februari 2012


Arungi Ombak Besar Samudra Pasifik Menuju Kwajalein, AS
Cuaca Ekstrem, Makan Mie Instan tanpa Dimasak
 Padang Ekspres • Rabu, 08/02/2012 11:55 WIB • Suryo Eko P—Pasifik • 62 klik
Makan Pecel: Juru senjata Kopda Bah Yuli Wibowo, bintara utama Peltu Sba Yohanes
Kalimat The Challenge Begins in Here di poster lintasan pelayaran KRI Dewaruci 1953–2012 yang dipasang di depan pantri sebelah lounge perwira, agaknya, pas untuk menggambarkan kondisi terkini pelayaran Dewaruci.

Sejak meninggalkan perbatasan Indonesia di sisi timur menyisiri utara Papua Nugini, Dewaruci yang melintasi laut lepas Samudra Pasifik selalu akrab dengan hantaman ombak. Saat cuaca bersahabat, tinggi gelombang pun bisa mencapai 5 meter. Jika terjadi badai, ketinggian ombak kadang 2–3 kali lipatnya. Kapal berumur hampir enam dasawarsa itu pun berjalan terombang-ambing mengikuti alunan ombak besar di salah satu samudra terganas.

Suatu kondisi yang tidak mudah bagi siapa pun. Sekalipun, para awak kapal sejatinya sudah terbiasa berlayar. Namun, menurut Panglima Armatim Laksda TNI Ade Supandi, komunikasi dengan awak Dewaruci melalui hubungan satelit Inmarsat di kapal relatif normal. ”Saya tadi bisa telepon ke kapal. Mereka mengabarkan cuaca di lautan Pasifik (Samudra Pasifik) masih bagus,” kata Ade.

Selain menuju Kwajalein yang sudah lebih dari separo perjalanan, dua kota di Negeri Paman Sam berikutnya adalah Honolulu dan San Diego. Pada pelayaran sebelumnya, kapal tiga tiang tinggi itu sejak berlayar perdana 1953 terhitung sedikitnya sudah tiga kali singgah pergi pulang (PP) ke Kwajalein dalam muhibah internasionalnya.

Kapal layar latih TNI-AL tersebut sandar di gugusan kepulauan tengah laut lepas kali pertama pada 1986 yang dikomandani Letkol Ripa Gamhadi. Rutenya menyisir Guam menuju Pearl Harbor PP. Kemudian, di bawah komando Letkol Darwanto pada 2000 dari Sorong ke Honolulu PP. Selanjutnya, pada 2007 saat Dewaruci dipimpin Letkol Sutarmono dari Jayapura ke Honolulu PP.

Di tangan komandan sekarang, Letkol Laut (P) Haris Bima Bayuseto, Dewaruci hanya sekali sandar (tidak PP) seperti tiga pelayaran sebelumnya. Pada edisi keliling dunia pertama 1964 silam, pelayaran tidak melewati Kwajalein.

Ketika itu, rute di Samudra Pasifik melalui San Diego–Honolulu–Midwai–Jayapura. ”Itulah yang membedakan misi tahun ini dianggap terjauh dan terlama. Kalau ditafsir, perjalanan kami sekarang memutari satu sepertiga keliling bumi,” tutur Bima.

Dengan total waktu berlayar 277 hari atau hampir 10 bulan ter ombang-ambing gelombang, pemandangan sebagian awak kapal mabuk laut maupun muntah termasuk lumrah. Suatu kelaziman manusia memang tinggal di darat.

Dampak goyangan Samudra Pasifik maupun ombak yang cenderung kurang bersahabat, menurut dokter kapal Lettu Laut (K) dr Bangun Pramujo, membuat selera makan menurun. Akibatnya, daya tahan fisik juga menurun. Parameter jika ombak ekstrem, para juru masak biasanya angkat tangan. Aktivitas masak-memasak distop.

Kepala Urusan Perbekalan Sertu Bek Aunu Rofik mengungkapkan, kegiatan masak di dapur mandek demi menjaga keselamatan juru masak dari sengatan panas panci dan kompor yang posisinya tidak stabil. “Biasanya, kalau kami sudah angkat tangan, mereka bertahan dengan makanan keringan,” terang Rofik. Gelagat dampak perut bakal dikocok sepanjang perjalanan Samudra Pasifik sudah terlihat ketika Dewaruci sandar di Jayapura.

Meski masing-masing personel sudah dibekali satu kaleng besar (seukuran kaleng kotak panjang minyak) kabindo, biskuit manis padat ala TNI, beberapa awak kapal yang kurang persiapan makanan dari kota pemberangkatan pertama Surabaya terlihat memborong makanan instan. Misalnya, mi instan, aneka biskuit asin, dan minuman ringan. ”Biskuit asin bisa menetralkan rasa mual,” kata Juru Penerangan Dispen Armatim Sertu Mes Ahmad Darowi.

Kesibukan lain terlihat dilakukan juru pantri. Para kelasi dan tamtama bagian itu memasak dengan cara memasukkan air panas ke dalam bungkus mie instan. Langkah itu lebih praktis daripada memasak dalam panci di atas kompor listrik. Bahkan dalam kondisi cuaca ekstrem, mie instan langsung dimakan tanpa dimasak dulu. Alhasil, makanan instan tersebut laris manis.

Bagi sebagian besar awak Dewaruci yang sudah beberapa kali berlayar melewati samudra ganas dan ditempa dalam kondisi sulit di dalam kabin kapal, ”puasa” mereka saat ombak tidak bersahabat terbayar begitu kapal sandar. Di kota-kota besar dunia yang dikunjungi itu, mereka melepas penat agar kembali segar dan melanjutkan pelayaran. (***)
[ Red/Redaksi_ILS ]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar