Kamis, 09 Agustus 2012

KRI DEWARUCI ENAM KALI SINGGAH DI SPANYOL

KRI DEWARUCI ENAM KALI SINGGAH DI SPANYOL



Cadiz, 01 Agustus 2012
Pagi ini KRI Dewaruci untuk yang ke- enam kalinya singgah di negara Spanyol bertepatan dengan awal Agustus (1/8) 2012 tiba di dermaga Pelabuhan Cadiz Spanyol dengan di sambut oleh Atase Pertahanan Darat Kolonel (CAJ) Erry Herman, Protokol Angkatan Laut Spanyol dan staf KBRI.

Ke- enam kali tersebut masing-masing di tahun 2003 singgah di kota Cadiz dan Malaga saat Komandan KRI Dewaruci di jabat oleh Letkol Laut (P) Didin Zaenal.A, kemudian tahun 2005 KRI DWR di bawa oleh Letkol Laut (P) Sutarmono singgah di kota La Coruna, sedangkan tahun 2010 oleh letkol Laut (P) Suharto singgah di Malaga dan Cadiz dan di tahun ini dengan Komandan Letkol Laut (P) Haris Bima Bayuseto singgah di Cadiz.

Dengan seringnya singgah di Spanyol tentunya banyak warga/ masyarakat spanyol yang sudah kenal dengan KRI Dewaruci, sehingga di harapkan selama tiga hari singgah di Cadis KRI DWR akan banyak yang mengunjunginya terutama saat open ship berlangsung.

Sesaat setelah merapat di dermaga Komandan KRI Dewaruci mengadakan kunjungan ke Kantor Perwakilan Pemerintahan Spanyol di kota Cadiz, kunjungan ke Wali Kota Cadiz dan ke Deputi Provinsi. Dalam kewempatan tersebut Komandan KRI DWR menyampaikan missinya sebagai Duta Bangsa untuk lebih mempererat kerja sama ke dua negara yang telah terjalin selama ini, di samping itu juga menyampaikan bahwa KRI DWR kali ini singgah di Cadiz dalam rangka perjalanan keliling dunia yang ke dua.

Menjelang berakhirnya kunjungan ucapan terima kasih juga di sampaikan oleh Komanadan karena KRI DWR telah diterima dengan baik di kota Cadiz, kemudian penyerahan cindera mata berupa plaket dari Dan KRI kepada masing- masing Pejabat/ instansi yang di kunjunginya.

Selama singgah di Cadis telah disusun berbagai kegiatan lainnya antara lain Tour bersama di kota Sevilla dimana seluruh Prajurit KRI Dewaruci bersama-sama dengan Komandan melaksanakan kegiatan tersebut kecuali yang sedang dinas jaga, kesesokan harinya akan diadakan tatap muka dengan Dubes RI Madrit di kapal di lanjutkan dengan buka puasa bersamadi kapal dan pada Jumat akan di adakan coctail party. (Dispenarmatim)

KRI Dewaruci Singgah di Cadiz

KRI Dewaruci Singgah di Cadiz
 

Jakarta, Wartakotalive.com
Di bawah komandan Letkol (P) Haris Bima Bayuseto, KRI Dewaruci berkelana lagi menjelajah dunia sejak Januari 2012. Salah satu tujuannya adalah berkunjung ke Cadiz, Spanyol.
Dubes RI untuk Kerajaan Spanyol, Ibu Adiyatwidi Adiwoso Asmady, dalam sambutan di acara cocktail di geladak KRI Dewaruci, menyatakan bangga atas kerja keras, ketangguhan, dan kerja sama para ABK dan Perwira KRI Dewaruci, yang telah berlayar selama lebih kurang enam bulan dari Indonesia hingga Cadiz. Demikian diberitakan Antara.
Counsellor KBRI Madrid, Theodorus Satrio Nugroho, menyebutkan hal membanggakan lainnya adalah KRI Dewaruci telah memperoleh juara umum American Tall Ship Race 2012 di AS pada bulan Juni lalu.
Kunjungan ke Cadiz ini memberikan arti penting, karena Cadiz adalah pelabuhan tempat Columbus berlayar ke benua Amerika untuk yang kedua kalinya pada tahun 1493.
Dengan Indonesia sebagai negara kepualauan tebesar di dunia, maka terdapat potensi untuk kerja sama di berbagai bidang, seperti pembuatan kapal maupun manajemen pelabuhan.
Acara cocktail dihadiri sekitar 100 undangan, termasuk Wakil Walikota Cadiz, Komandan Angkatan Laut Rota, serta Komandan Kapal Perang Spanyol. Para undangan mendapat suguhan makanan khas Indonesia, seperti bakso, nasi goreng, bakmi, dan rempeyek, yang disiapkan juru masak dari KRI Dewaruci. Acara ini dimeriahkan pula dengan pertunjukan "artis" ABK KRI Dewaruci dengan tarian Badindin, Reog, dan iringan musik band dan kendang Sunda.
Komandan KRI Dewaruci, Letkol (P) Hari Bima mengatakan, merasa bangga dengan pelayaran keliling dunia ini, karena ini merupakan pelayaran keliling dunia yang kedua setelah pelayaran yang sama pada tahun 1964.
Pelayaran keliling dunia ini diperkirakan menghabiskan waktu sebanyak 9 bulan dengan mengunjungi empat benua Asia, Amerika, Eropa, dan Afrika dengan total jarak tempuh sekitart 43 .500 km. BK / av

Kamis, 02 Agustus 2012

Tak Kantongi SC, Nyaris tidak Bisa Ikut Berlayar Ikuti Ekspedisi KRI Dewaruci Keliling Dunia pada Bulan Ramadhan, Rute Kanada–Porto (1)


Setelah menempuh pelayaran panjang, dari Boston ke Kanada, dilanjutkan ke Portugal, akhirnya KRI Dewaruci merapat di Pelabuhan Porto, 26 Juli lalu. Wartawan JPNN SURYO EKO PRASETYO yang mengikuti ekspedisi Dewaruci keliling dunia itu pun melaporkan kembali perjalanan selama 17 hari di tengah Laut Atlantik tersebut.

BERLAYAR di atas kapal yang lingkungannya terbatas bisa mengakibatkan stres. Apa­lagi dalam waktu berbu­lan-bulan seperti di ekspedisi KRI Dewaruci ini. Dimensi panjang dan lebar geladak KRI Dewaruci yang tidak lebih dari 49,6 meter x 9,5 meter terke­san sempit dan yang terlihat itu-itu saja.

Tidak bisa dimungkiri bah­wa rasa kangen terhadap ke­luarga di tanah air sering mun­cul. Bila tidak bisa melawan stres, bisa-bisa sumbu emosi gampang tersulut. Potensi gesekan antarawak kapal pun menjadi terbuka.

Saya yang pernah ikut pela­yaran Dewaruci rute Suraba­ya–Jayapura berusaha me­nyelami situasi psikologis para ABK (anak buah kapal). Ja­ngan sampai kehadiran saya ibarat bensin yang dapat me­nyulut bara menjadi api. Kare­na itu, seluruh prosedur saya penuhi sejak sebelum ber­ang­kat. Di antaranya, dokumen per­jalanan seperti paspor dan visa, tiket pesawat, buku ku­ning berisi sertifikat vaksinasi internasional yang lazim berla­ku di kalangan pelaut, surat tugas dari kantor, dan security clearance (SC) dari TNI-AL.

Persyaratan administrasi tersebut saya urus sejak pulang dari Jayapura, Februari 2012. Kebetulan, paspor sudah saya perpanjang sebelum menda­pat penugasan ke luar negeri, Desember 2011. Di antara rencana 11 negara yang akan disinggahi Dewaruci, saya hanya membutuhkan tujuh visa. Yakni, visa AS, Kanada, Por­tugal (juga berlaku visa Sc­hengen di Spanyol dan Mal­ta), Mesir, Arab Saudi, Oman, dan Sri Lanka.

Buku kuning saya urus di Kantor Kesehatan Pelabuhan Tan­jung Perak dan Bandara Juanda. Tanda tangan dr Ga­ng­­ga Adam Erlangga dan dr Wahju Tj. membuktikan saya per­nah divaksin meningitis, typhoid, dan yellow fever.

Vaksin itu, menurut per­wira kesehatan di Dewaruci dr Bangun Pramujo, merupakan langkah preventif terhadap pe­nyakit maupun prosedur izin masuk ke suatu negara terten­tu. ”Pelabuhan-pelabuhan di AS sangat ketat terhadap war­ga asing yang belum disuntik yellow fever. Negara-negara Afrika dan Timur Tengah bia­sanya sangat perhatian ter­hadap antisipasi meningitis,” terang Bangun.

Saya yakin syarat-syarat lain sudah saya penuhi dari Komando Armada RI Kawasan Timur (Armatim) sebelum mengikuti pelayaran ke Jaya­pura.

Celakanya, SC untuk pela­ya­ran ke luar negeri ter­nyata ti­dak cukup dari Intelijen Ar­matim. Harus ada SC dari Intelijen Mabes TNI-AL.

Namun, saat saya sudah menginjakkan kaki di Boston, AS, masalah prosedur muncul. Yakni, soal SC dari Mabes TNI-AL yang memang belum saya kantongi. Pasalnya, SC itu diperlukan saat saya mengikuti pelayaran di sejumlah negara sebagai prasyarat perizinan. Izin tersebut mestinya diurus sebelum berlayar ke luar ne­geri.

Agenda waktu, dalam rang­ka apa, kegiatan di negara tujuan, siapa saja kru atau personel yang terlibat, dan kapan meninggalkan negara tersebut harus jelas di awal. Prosedur standar itu ditin­dak­lanjuti dengan instansi teknis di negara tersebut.

”Jadi, selama belum ada SC dari Aspam (Asisten Penga­manan KSAL, red), saya tidak menjamin Mas Suryo bisa ikut ke Kanada,” ucap Komandan KRI Dewaruci Letkol Laut (P) Haris Bima Bayuseto dua hari sebelum Dewaruci mening­galkan Boston.

Mendengar pernyataan Bima tersebut, seluruh per­sendian tubuh saya rasanya tak bertulang lagi. Tidak sampai tiga hari lagi Dewaruci akan berlayar ke Kanada. Tidak mungkin saya harus mengurus lagi di tanah air. Karena itu, saya memohon ada dekresi kebijakan dari komandan De­waruci.

Selain itu, saya langsung menelepon Kadispen Armatim Letkol Laut (KH) Yayan Su­giana. Kebetulan yang ber­sangkutan sedang di Mabes TNI-AL. ”SC langsung ditanga­ni Letkol Laut (KH) Abdul Kadir (kepala Seksi Peliputan dan Pemberitaan Sub Dinas Penerangan Umum Dispenal, red),” kata Yayan.

Saya mencoba menghu­bungi perwira menengah yang baru promosi pada April 2012 itu. Suara di ujung telepon tidak jelas dan cenderung putus-putus. Kemudian, saya ketik pesan singkat kepadanya. Balasannya cukup melegakan hati meski belum ada kepas­tian: ”SC masih di Spamal (staf pengamanan KSAL). Kami mencoba menelusuri SC yang lama di Armatim sambil pro­ses SC yang baru.

Surat kami konsep ko­man­dan kapal agar dapat diterima. Titik terang akhirnya datang dari Atase Laut Republik Indonesia di Washington DC Ko­lonel Laut (KH) Anwar Saadi. Pamen tiga melati yang me­ngawal diplomasi pelayaran Dewaruci 2012 di AS—mulai Kwajalein hingga Kepulauan Marshall—medio Februari tersebut menguatkan saya. Selama di Benua Amerika (termasuk Kanada, Amerika Utara), itu masih wilayah ”ke­kuasaan” dia. ”Yang penting punya visa Kanada tidak ma­salah,” ujar Anwar me­ya­kin­kan saya. (ber­sambung)

Ikuti Ekspedisi KRI Dewaruci Keliling Dunia pada Bulan Ramadan, Rute Kanada-Porto (5-Habis) Cerah, Kru Ramai-ramai Bersihkan Kapal


Cerah, Kru Ramai-ramai Bersihkan Kapal
Palaksa Mayor Laut (P) Osben Alibos Naibaho (kiri) menyaksikan anggotanya berlatih tari badindin menjelang sandar di Kanada. (F-SURYO EKO PRASETYO/JAWA POS)

 

KANADA (RP) - Kesibukan awak KRI Dewaruci meningkat menjelang sandar di Saint Johns, Kanada. Di antaranya, membuat kinclong kembali bagian kapal yang berkarat.

Cuaca cerah tak disia-siakan para ABK (anak buah kapal) KRI Dewaruci siang itu. Mereka memanfaatkan kondisi itu untuk membenahi sekaligus merapikan geladak atas dan properti layar.

Misalnya, pagar railing besi bercat putih di sepanjang lambung kanan dan kiri kapal. Beberapa bagian yang sudah berkarat dibersihkan, lalu digosok dengan menggunakan kertas ampelas. Setelah permukaannya terasa halus, bagian itu dicat lagi hingga kinclong.

Lapisan kayu dan kuningan di atas railing yang tampak buram juga tak luput dibersihkan. Bintara utama Peltu Yohanes Satoro dengan cekatan mengambil kain gombal, cat pernis, dan braso. Kayu yang berfungsi sebagai pegangan pagar itu pun ‘’disulap’’ lagi menjadi tampak baru.

Sedangkan kuningan yang membungkus ujung-ujung kayu railing digosok braso. Warna buram pada logam itu kemudian berubah menjadi lebih terang.

‘’Ini perawatan rutin. Biar kapal tetap dalam kondisi baik terus,’’ ujar prajurit yang sudah lebih dari 20 tahun mengabdi di atas geladak Dewaruci itu.

Meski terhitung senior, urusan pembenahan eksterior geladak yang tak terputus, mulai haluan hingga buritan, menjadi tanggung jawab bersama seluruh kru.

Tentara berpangkat kelasi, tamtama, bintara, maupun perwira pertama bisa disemprot atasan bila geladak utama Dewaruci dalam kondisi berantakan.

Geladak terbuka atau biasa disebut geladak H merupakan perwajahan kapal tersebut setelah landmark pada bagian tiang dan lambung kapal. Di geladak H terdapat haluan, pintu masuk ke geladak tengah, anjungan, geladak isyarat (atap anjungan), serta buritan.

Selain itu, ada kemudi kapal dan peralatan layar seperti tali layar, peti berisi peralatan memanjat, layar cadangan, serta sekoci. Sebelum memasuki jerohan kapal latih Dewaruci, setiap orang akan melewati geladak setinggi 4,55 meter dengan panjang 49,66 meter itu.

Hampir seluruh kegiatan penting dilaksanakan di geladak utama tersebut.

Misalnya, salat berjamaah, apel atau upacara, ramah tamah, dan kegiatan belajar-mengajar. Geladak utama juga sering dipakai latihan kesenian, olahraga, dan cocktail party. Karena itu, geladak utama harus selalu kelihatan terawat, rapi, dan bersih.

Kesibukan para ABK juga terlihat di bawah tiang panjat Bima (tiang depan), Arjuna (tiang tengah), dan Yudhistira (tiang belakang). Di lokasi itu terdapat banyak jenis tali, mengingat Dewaruci dilengkapi 16 jenis layar.

Layar-layar tersebut tertambat di tiga tiang utama plus tiang cocor (depan haluan). Totalnya, belasan layar itu 1.091 meter persegi.  Untuk mengoperasikan layar-layar tersebut diperlukan tali seukuran jempol tangan pria dewasa.

Tali-tali itu dilingkarkan di sebuah gulungan besi statis. Agar poros gulungan tidak aus atau macet ketika diputar perlu diberi pelumas.

‘’Sekalian supaya gulungan tali lebih rapi,’’ tegas juru layar Kelasi Satu Supriyadi.  Aktivitas lain terlihat di geladak dekat akses pintu ABK. Juru bahari Serda Umar Sabat tampak memperhalus lantai dari kayu.

Dengan menggunakan gerenda listrik, bintara dari Kupang itu melantai sembari menggosokkan gerinda ke lantai yang dianggap kurang rata. Sambungan antarlantai kayu dari silikon turut dirapikan.

Untuk menghindarkan kayu dari keretakan akibat suhu udara yang panas, lantai perlu disiram air. Selain itu, kru kapal menutup tanda-tanda korosi di beberapa titik logam besi geladak atas.

Korosi itu disebabkan air laut yang setiap saat membasahi geladak. Penutupan dilakukan dengan menggunakan cat warna hitam dan cairan silikon. Dalam waktu singkat, cat cepat mengering.

Perawatan selalu dilakukan menjelang kapal sandar. Terutama saat cuaca bersahabat. Kegiatan itu setidaknya bisa mengusir kebosanan berbulan-bulan hidup di tengah laut.  ‘’Kondisi kapal yang tetap cantik juga penting. Sebab, setiap sandar, Dewaruci menjadi objek tontonan warga setempat,’’ ujar Supriyadi.(ari/ila)
 
 

Rabu, 01 Agustus 2012

Ikuti Ekspedisi KRI Dewaruci Keliling Dunia pada Bulan Ramadan, Rute Kanada-Porto (3) Lintasi Lokasi Tenggelamnya Kapal Titanic


 
KANADA (RP) - Pelayaran Boston-St Johns, Kanada, sejauh 900 nautical mile (1.666 Km) ditempuh selama lima hari.

Para awak kapal bisa kembali beraktivitas rutin, termasuk persiapan unjuk seni di Kanada.

Petang itu KRI Dewaruci sedang melintasi Tanjung Sable, perairan timur Kanada. Seusai apel petang di geladak atas, kesibukan awak Dewaruci bertambah.

Para ABK (anak buah kapal) yang tergabung dalam tim kesenian mendapat perintah dari Perwira Pelaksana (Palaksa) Mayor Laut (P) Osben Alibos Naibaho untuk berlatih tari.

‘’Anggota tim kesenian daerah kumpul di geladak H untuk latihan’’. Demikian instruksi perwira jaga lewat pengeras suara di seluruh penjuru kapal.

Tim itu beranggota personel bintara, tamtama, maupun kelasi. Mereka biasa tampil dalam setiap acara cocktail party, malam keakraban, dan agenda diplomasi saat Dewaruci sandar di sebuah negara.

Beberapa kesenian yang disuguhkan, antara lain, tari remo ala Jawa Timuran, reog Ponorogo, dan badindin dari Minang, Sumatera Barat. Ada juga rampak gendang Jawa Barat dan tari perang khas Papua.

Tak heran bila pertunjukan kesenian oleh tim kru Dewaruci selalu menarik perhatian para diplomat asing maupun warga setempat. Sebab, selain unik, kesenian tersebut khas.

Latihan petang itu merupakan kali pertama setelah tiga bulan vakum. Sebelumnya, pertunjukan kesenian dalam setiap acara di daratan dipersembahkan tim kesenian kadet AAL. Setelah para kadet pulang ke Tanah Air, misi kebudayaan itu dikembalikan lagi kepada para awak Dewaruci.

Awak Dewaruci pun menyambut perintah atasan dengan serius. Mereka berlatih dengan sungguh-sungguh. Misalnya, yang ditunjukkan Juru Navigasi Serda Asep Sutiono (40), kru paling senior di kelompok rampak gendang. Dia tampak begitu bersemangat saat memainkan alat musik tradisional itu memimpin enam anggotanya.

‘’Sejak gabung di Dewaruci, saya harus bisa menampilkan kesenian dari berbagai daerah,’’ ujar bintara asal Tangerang tersebut.

Asep mengungkapkan, saat bertugas di KRI Arun, kru tidak wajib menguasai tari-tarian etnik Indonesia seperti di Dewaruci. Sebab, di KRI Arun, dirinya diplot menggawangi setir kapal di anjungan. Sementara itu, di Dewaruci, para kru dituntut tidak hanya bisa mengoperasikan kapal, tapi juga menjadi duta bangsa lewat kesenian.

Selain Asep, anggota tim reog Ponorogo Serma Riyanta termasuk tentara sepuh. Meski begitu, bintara bahari yang usianya mendekati kepala lima itu tetap bersemangat ketika memerankan warok. ‘’Sekalian olahraga untuk kebugaran tubuh,’’ ujar tentara yang sudah mempunyai seorang cucu tersebut.

Lain lagi peran yang dibawakan Juru Masak Koptu Saut Tulus Silaban. Dia masuk anggota kelompok tari perang Papua. Lalu, Kelasi Kepala Martuko Simatupang menjadi warok Ponorogo. Juru Bahari Kelasi Satu R Guteres yang asal Dili, Timor Leste, dipercaya menjadi pemain singa barong dalam reog Ponorogo.

Kemudian, juru layar dari Bali I Gede Sastrawan menjadi salah seorang penabuh rampak gendang. Pokoknya, di Dewaruci terjadi lintas budaya.

Latihan berakhir menjelang matahari terbenam sekitar pukul 19.30. Langit mulai beranjak gelap, Dewaruci berposisi di tenggara Provinsi Newfoundland, Kanada.

Tidak jauh dari wilayah itu, pada 14 April 1912, terjadi sebuah tragedi laut terbesar sepanjang sejarah. Kapal pesiar Britania Raya bernama Titanic tenggelam setelah menghantam gunung es. Musibah tersebut menewaskan 1.514 penumpangnya.

Insiden terjadi dalam pelayaran perdana Titanic dari Southhampton, Inggris, ke New York, AS. Sebagian korban tewas karena hipotermia yang dipicu dinginnya air laut hingga -2 derajat Celsius.

Perairan itu pada bulan-bulan tertentu dilalui bongkahan es yang hanyut terbawa arus air laut ke selatan. Bongkahan es yang menyerupai bukit maupun gunung tersebut terlepas dari wilayah Kutub Utara maupun greenland Denmark. BMKG Maritim setempat sempat mengingatkan Dewaruci tentang es yang hanyut dari Newfoundland.

Udara dingin yang berembus malam itu membuat saya tidak tahan berlama-lama di geladak atas Dewaruci. Iklim di Newfoundland, berdasar prakiraan BMKG Bandara St John’s selama Januari-Juni 2012, masuk musim dingin.

Di antaranya ditandai turunnya hujan salju. Kemudian, musim panas terjadi pada Juli-September. Bulan berikutnya sampai akhir tahun masuk musim semi.

Meski pelayaran ke Kanada terhitung musim panas, efek musim dingin bulan sebelumnya masih terasa. Terutama ketika kapal melewati perairan Kanada di timur Halifax.

Ketika itu, Dewaruci berpapasan dengan beberapa yacht (sejenis kapal layar kecil) yang menyambut musim panas. Namun, temperatur kurang bersahabat masih terasa di Pelabuhan St John’s.

Dewaruci sandar selama tiga hari di dermaga 9 pelabuhan itu untuk kemudian melanjutkan pelayaran menuju Porto, Portugal, menjelang Ramadan 1433 H. (ari/ila)
 
 
 

Ikut Dewaruci Keliling Dunia pada Bulan Ramadan, Rute Kanada-Porto (2) Terpaksa Tidur di Ruang Penunggu Kapal


Terpaksa Tidur di Ruang Penunggu Kapal
Para awak KRI Dewaruci bergotong royong mencuci seprai dan selimut dalam perjalanan Boston-Kanada. (Foto: SURYO EKO PRASETYO/JPNN)




BOSTON (RP) - Suasana terasa agak berbeda ketika KRI Dewaruci meninggalkan Boston. Kapal jadi terasa lebih enteng jika dibanding sebelumnya.

Sebab, 101 kadet Akademi Angkatan Laut (AAL) beserta lima perwira pembimbing yang semula memadati kapal latih TNI-AL tersebut tak ikut lagi dalam perjalanan ke Eropa. Mereka kembali ke Tanah Air dengan pesawat terbang.

Karena itu, sejak meninggalkan Amerika Serikat, Dewaruci hanya berawak 78 anggota TNI-AL. Terpaksa Tidur di Ruang ‘’Penunggu’’ Kapal.

Dengan demikian, suasana kapal jadi lebih longgar. Tempat tidur tidak perlu lagi berdesak-desakan. Begitu pula saat mandi atau makan, antreannya lebih pendek dan cepat. Kapal yang semula overload (semestinya tak boleh lebih dari 150 penumpang) jadi terasa ringan.

Kapasitas ruangan yang terbatas dijejali penumpang dua kali lipat dari yang semestinya. Misalnya, ruang perwira yang berkapasitas 2-4 tempat tidur terpaksa diisi sampai 6-7 tempat tidur.

Ruang tamu utama atau salon yang bukan ruang tidur, ketika masih ada kadet, terpaksa dijadikan ruang istirahat yang penuh sesak.

Ruangan yang biasa dipakai komandan kapal menerima tamu berada di bawah bagian buritan. Sementara itu, ruangan salon dilengkapi dua set sofa beralas karpet dan ber-AC. Saya sempat menempati ruangan yang konon merupakan rumah ‘’penunggu’’ kapal berumur 60 tahun tersebut.

Yang paling penuh sesak adalah ruang tidur ABK (anak buah kapal) dan ruang tidur kadet. Sekitar 30 ranjang susun tiga didesain menjadi magic box (kotak ajaib).

Setiap kasur, selain untuk istirahat, menjadi tempat untuk meletakkan perbekalan para kadet dan ABK. Padahal, ukuran kasur itu hanya 2x1 meter. Di bawah kasur terdapat kotak seperti lemari untuk menyimpan alat-alat pribadi.

Di ruangan tersebut juga terdapat puluhan loker yang biasa digunakan menyimpan baju. Sementara itu, bagian tengah dilengkapi pendingin ruangan untuk meletakkan tas-tas besar, koper, hingga peralatan band, sound system, maupun perlengkapan lainnya.

Bagi yang tidak terbiasa masuk ke ruang tidur ABK dan taruna, napas bisa terasa sesak. Sebab, baunya terasa apak dan lembap. Maklum, selain penuh sesak, banyak barang yang tak pernah dicuci.

Dari dalam, Dewaruci memang terkesan besar. Padahal, kapasitas kapal latih itu sejatinya relatif kecil untuk kebutuhan ke depan. Cukup beralasan jika KSAL Laksamana Soeparno dalam suatu kesempatan menegaskan bahwa Dewaruci II nanti harus lebih besar. Daya muat dan fasilitas akomodasi kapal minimal dua kali lipat dari Dewaruci I.

Begitu Dewaruci lepas sandar dari Boston, kondisi kapal berubah total. Ruang tidur taruna yang ditinggal penghuninya kembali bisa dimanfaatkan para ABK secara leluasa.

Selain bisa mengurangi kepadatan di tempat istirahat ABK, ruangan kadet bisa digunakan menyimpan barang-barang bawaan.

Saya akhirnya juga ikut boyongan dari ruang angker di salon ke ruang tidur yang ditinggalkan para kadet. Saya mendapat tempat tidur alternatif dan dua loker untuk menyimpan barang-barang bawaan saya dari Surabaya.

Posisi tempat tidur alternatif saya berada di ruang kadet. Tepatnya di lambung kiri kapal yang tidak jauh dari titik yang bocor tempo hari. Beruntung, kebocoran itu dapat diatasi dengan baik sehingga tak bocor lagi.

Untuk tempat istirahat, disediakan tempat tidur susun dua untuk saya. Tempat tidur itu saya tempati bersama seorang perwira staf intelijen. Posisinya di lambung kanan, di samping lorong dekat pantri (dapur kering) dan dekat toilet perwira menengah/tamu VIP.

Ruangannya berukuran 3x2 meter, sedangkan ukuran kasurnya sama seperti di tempat tidur ABK, 2x1 meter. Namun, tempat tidur susun tersebut lebih longgar karena jaraknya dengan kasur di atasnya cukup tinggi, sekitar 1,5 meter.

Dengan begitu, yang menempati kasur di bawah tidak sampai terantuk besi di atasnya jika duduk. Hal itu berbeda dari kondisi di ruang tidur para ABK yang jarak susunnya hanya setengah meter.

Persoalannya, AC di ruang tidur kami disetel sentral, sehingga tidak bisa dibesar-kecilkan sendiri. Temperaturnya sudah di-setting 21 derajat Celsius setiap saat.

Akibatnya, udara di ruangan itu cukup dingin. Kami pun harus mengenakan pakaian berlapis-lapis kalau tidak ingin menggigil kedinginan.

Dinginnya udara dalam dua hari perjalanan awal membuat para awak kapal tidak bisa banyak beraktivitas. Sejak meninggalkan Boston, tidak terlihat sinar matahari menembus awan mendung di atas perairan Atlantik. Suasana petang di sini terjadi pukul 20.30. Saat itu, matahari baru tenggelam.

Cuaca mulai bersahabat memasuki Ahad siang lalu. Awan tipis di sepanjang langit Teluk Maine, Laut Emerald, hingga mendekati Tanjung Sable perbatasan AS-Kanada mulai terlihat.

Sinar matahari pun terasa di atas geladak kapal. Saat itulah seluruh awak kapal bekerja bakti untuk mencuci segala perlengkapan yang kotor dan bau. Baju, seprai, selimut, karpet, dan lain-lain dikumpulkan di geladak untuk dibersihkan.

Kepala Divisi Layar Lettu Laut (P) Yacob Tri Raharjo turut ikut berbasah-basah bersama anak buahnya. Begitu bersih, seprai putih bermotif garis berlogo jangkar TNI-AL dan selimut hijau digantung di geladak terbuka.

Jadilah Dewaruci seperti jemuran yang terapung di sepanjang perairan timur Kanada sampai Atlantik Utara.(bersambung/ari/ila)

Dewaruci Keliling Dunia pada Bulan Ramadan, Rute Kanada-Porto (1) Lima Hari Menggigil di Samudera Atlantik


 Lima Hari Menggigil di Samudera Atlantik
JPNN berada di antara awak KRI Dewaruci saat berlayar menuju Kanada, beberapa waktu lalu. (Foto: JPNN)

 
BOSTON (RP) - Sudah lima bulan KRI Dewaruci mengelilingi Amerika Serikat. Dari pelabuhan terakhir di Boston, kapal legendaris itu bergeser ke Amerika Utara. Tepatnya di Saint John’s, Kanada.

Petang itu pukul 15.30, KRI Dewaruci keluar dari dermaga ikan Distrik Pelabuhan Boston. Sebuah kapal tunda yang membawa pandu pelabuhan menarik haluan Dewaruci menjauh dari dermaga.

Kapal melewati perairan sedalam 40-an meter yang berwarna hijau bening. Sebagian ABK melaksanakan peran muka belakang. Mereka menempati posisi di tepian haluan, lambung, dan buritan.

Selesai peran muka belakang, dilanjutkan peran pemanduan sampai kapal menjauh dari teluk.

Puluhan warga Boston yang menyaksikan Dewaruci lepas sandar tak kunjung beranjak dari tepi dermaga. Mereka terlihat tidak rela berpisah dari kapal latih TNI-AL yang hampir sepekan sandar di ibu kota dan kota terbesar di Massachusetts itu.

Suasana makin menyentuh ketika lagu Sailing diperdengarkan melalui pengeras suara kapal.

Dewaruci menjadi kapal layar tiang tinggi terakhir yang meninggalkan Boston. Sehari sebelumnya, tiga kapal latih milik Brasil, Ekuador, serta Kolombia meninggalkan Teluk Massachusetts.

Perasaan sayang harus meninggalkan salah satu kota tua di AS itu begitu terasa di dada para ABK.

Keberangkatan tersebut molor sekitar 3,5 jam dari jadwal semula pukul 12.00. Itu terjadi menyusul insiden bocornya lambung kiri sehari sebelum berangkat, sehingga harus ditambal dengan kuat. Dewaruci harus tetap tepat waktu tiba di negara tujuan berikutnya.

Saat Dewaruci menyisiri alur pelayaran di barat daya Bandara Logan, sejumlah pesawat melintas di atas tiang Dewaruci. Pesawat-pesawat itu datang dan pergi dari bandara internasional tersebut.

Bandara itu berada di sebuah pulau sisi timur laut yang terpisah dari South Boston Waterfront, kawasan pelabuhan tempat Dewaruci sandar.

Selesai peran pemanduan, angin lumayan kencang bertiup dari lambung kiri kapal. Laju Dewaruci pun makin ringan, menyisiri belasan kepulauan di timur Area Taman Nasional Boston Harbor Island.

Di antaranya, Thompson Island, Spectacle Island, Gallop’s Island, George’s Island, dan Deer Island. Gugusan kepulauan itu mirip di kawasan Karimunjawa, Jawa Tengah.

Pulau-pulau itu menjadi objek wisata maritim. Bedanya, bila di Karimunjawa banyak anakan ikan hiu, di Boston gerombolan ikan paus sering menyembul ke permukaan.

Mereka sesekali menyemburkan mata air artesis dari lubang kepalanya. Beberapa di antaranya bermain-main dengan meloncat di atas permukaan air laut. Ada yang loncatannya sampai dua meter.

Semakin jauh dari daratan, hembusan angin makin kencang. Matahari petang masih menunjukkan sinarnya yang merah menyala. Meski begitu, udara terasa semakin dingin.

Karena itu, peran parade roll berupa ABK memanjat anak tangga di tiga tiang utama dan peruan (tiang horizontal di tiang depan) diakhiri.  ‘’Peran parade roll selesai... Peran parade roll selesai...’’ begitu instruksi yang terdengar dari dalam anjungan.

Berdasar prakiraan cuaca yang dilansir kantor BMKG Maritim Boston, cuaca hari-hari itu relatif normal. Kecepatan angin 7-9 knot. Ketinggian gelombang laut tidak lebih dari 2,7 meter.

Yang agak mengkhawatirkan hanya suhu udaranya. Menurut catatan BMKG, suhu paling rendah 15 derajat celsius. Tapi, termometer di jam tangan maupun termometer di kapal menunjukkan angka 11 derajat celsius.

Dan kondisi seperti itu terjadi selama lima hari pelayaran menuju Kanada.

Tidak banyak aktivitas yang dilakukan para awak kapal selama melintasi Samudra Atlantik dari Boston ke St John’s. Apel pagi pukul 08.00 dan apel sore 15.30 di geladak atas kerap ditiadakan. Petugas jaga di haluan harus mengenakan jaket dobel untuk mengawasi laju kapal.

Dinginnya air laut terasa hingga ke ruang-ruang dalam kapal. Hampir seluruh besi di kapal kebanggaan Indonesia itu terasa seperti es batu. Dingin sekali.

Sebagian besar AC (air conditioner) di kapal sudah dimatikan. Hanya pendingin ruangan di fresh room, tempat menyimpan bahan belanja basah, yang tidak dimatikan. (ari/jpnn/ila)