Rabu, 03 Oktober 2012

Di Belawan Dewaruci Diserbu Warga

Rabu, 3 Oktober 2012 14:42 WIB | Dibaca: 81 | Editor: Heru Pramono | Reporter : Wiwit Purwanto


dewaruci.JPG
foto:Surya/Wiwit Purwanto
Siswa TK mendapat penjelasan dari salah satu perwira di atas kapal KRI Dewaruci, Rabu (3/10/2012).
SURYA Online, SURABAYA - Tiga hari singgah di Belawan KRI Dewaruci  Rabu (3/10/2012) dikunjungi beberapa siswa sekolah dari tingkat TK,SD, SMP, SMU maupun masyarakat umum.

Kesempatan ini sekaligus untuk mengenalkan TNI Angkatan Laut melalui kapal latih kadet tiang tinggi tersebut.

Komandan Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut I Laksma TNI . B Soesilo, yang juga mengadakan kunjungan ke Dewaruci, bersama para siswa yang berkunjung di kapal mendapat penjelasan langsung oleh para perwira kapal yang menggaet mereka, kemudian merekapun keliling kapal.

"Mereka ingin melihat dari dekat tentang KRI Dewaruci ini, dan  ingin mengorek lebih dalam pengetahuan kebaharian sekaligus melihat teknologi seperti apa hingga kapal ini sanggup berlayar mengelilingi dunia," kata salah satu personel di KRI Dewaruci.

Selasa, 02 Oktober 2012

Kenapa KRI Dewaruci Memasang Bendera Hitam dengan Lambang Tengkorak?


  

Medan Ketika merapat di Belawan, KRI Dewaruci langsung menarik perhatian karena legendanya sebagai duta bangsa. Selain membawa bendera merah putih ukuran besar di tali tiang kapal juga tertambat bendera hitam gambar tengkorak yang biasanya identik dengan bajak laut.

Komandan KRI Dewaruci Letnan Kolonel (Letkol) Laut (P) Haris Bima B menyatakan, pemasangan bendera ini memang menjadi suatu polemik. Tetapi Dewaruci memasang bendera ini bukannya tanpa pertimbangan. Lagi pula makna bendera itu sebenarnya jauh dari hal negatif, tak seperti yang melekat pada bajak laut.

"Kalau kita banyak baca di (buku-buku) sejarah, bendera skull and bone itu hanyalah lambang kesuksesan. Jadi sebenarnya bukan bendera bajak laut," kata Haris Bima kepada wartawan, Senin (1/10/2012) siang usai sandar kapal di dermaga Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut (Lantamal) I Belawan, di Medan, Sumatera Utara.

Disebutkan Haris Bima, banyak kapal negara-negara lain yang juga menggunakan bendera seperti itu. Semasa Perang Dunia II, bendera seperti ini kerap dikibarkan. Kesatria Templar Inggris juga mengenakan lambang yang sama untuk menunjukkan kesuksesan. Ketika bendera itu dipasang, maknanya ingin menunjukkan ada kesuksesan yang sudah diperoleh.

Dikaitkan dengan KRI Dewaruci, maka kesuksesan itu agaknya termasuk keberhasilan menjadi juara dalam American Tall Ship Race 2012, di Amerika Serikat, yakni pelayaran dari Savannah ke New York, untuk kategori kapal layar. Kapal ini juga sukses melewati ombak berbahaya di Samudera Pasifik yang tingginya mencapai 12 meter.

KRI Dewaruci yang beroperasi sejak 1953, baru tiba di Tanah Air setelah melakukan perjalanan keliling dunia yang disebut Opsail 2012, selama 277 hari atau sekitar sembilan bulan. Kapal yang membawa 77 awak ini lego jangkar di Belawan selama tiga hari, untuk selanjutnya akan menuju Jakarta dan berlabuh di markasnya di Surabaya, Jawa Timur.


(rul/try)

Setelah Berlayar 277 Hari, KRI Dewaruci Sandar di Belawan


Medan  | Selasa, 2 Oct 2012



SEBAIT lagu berjudul "Tanah Airku" ciptaan Ibu Sud, Senin siang (1/10), terdengar samar-samar di laut Belawan, Medan, Sumatera Utara.

Sekitar 10 mil dari Pangkalan TNI AL Belawan, suara lagu itu masih terdengar dari sebuah kapal dengan Bendera Merah Putih yang berkibar di belakang kapal. Puluhan prajurit angkatan laut, berada di atas kapal, dalam posisi siaga.
Ya, kapal itu adalah KRI Dewaruci, yang baru saja menyelesaikan pelayarannya mengelilingi dunia.
Saat mendekat ke dermaga, tak satu pun kapal yang melintas berani mendekat. Semuanya memberikan hormat dan penghargaan kepada kapal perang yang dibeli semasa Presiden Soekarno itu.
Kapal ini dijemput oleh Patroli Catamaran 1201. Penghormatan lambung kanan pun dilakukan.
Dua kapal perang KRI BOA, dan KRI Kujang, juga mengawal kedatangan kapal tersebut. Ketika merapat ke dermaga, penghormatan Lambung Kiri kembali dilakukan oleh Kapal KRI 642 dan KRI 807.
Sejak 15 Januari 1953, saat pertama kali berlayar dari Jerman ke Indonesia, hingga saat ini KRI Dewiruci tampak tetap gagah.
Tahun ini, setidaknya ada 11 negara yang disinggahi, yaitu dimulai dari Surabaya, Indonesia, lalu menuju Jayapura, lanjut ke Kwajelein, Honololu, San Diego, New Orleans, Miyami, Savana, Nordfolk, dan Baltimore (Amerika Serikat). Kemudian pelayaran dilanjutkan ke Mzanillo (Meksico) Panama, Boston, ST John (Canada), Forto (Fortugal), Cadis (Spain), Malta (Malta), For Said (Egypt/Mesir), Jeddah (Arab Saudi), Shalala (Oman), Colombo (Srilanka), dan tiba di Pelabuhan Belawan, Sumut.

Seluruh negara yang dilalui itu memakan waktu selama 277 hari perjalanan, atau menempuh jarak sejauh 27 ribu nortikal mil luas yang sudah dilalui. Semua negara menyambut baik saat kedatangan pesawat KRI Dewaruci.
Kapten Kapal KRI Dewaruci, Letkol Laut Pelaut, Haris Bima Bayuseto, mengatakan, saat berlayar mengelingi dunia, ada banyak prestasi yang diperoleh. Di antaranya, juara kapal layar dari Safana New York, setelah itu diberi penghargaan kapal paling lama, kapal paling diminati, kapal paling unik dan paling banyak dikunjungi oleh warga negara yang disinggahi.


Ketika disinggung soal kondisi KRI Dewaruci, dirinya mengatakan kapal ini masih sangat baik, sehingga dirinya berharap agar KRI Dewaruci bisa digunakan untuk kegiatan lain, kecuali jika nanti diputuskan untuk dimuseumkan.
"Kondisinya masih bagus. Selama belum ada adiknya yang akan menggantikan tugas KRI Dewaruci, saya kira kapal ini masih bisa digunakan," kata Haris kepada Jurnal Nasional di atas KRI Dewaruci.
Sertu Umar Sabat, salah seorang awak KRI Dewaruci, mengatakan ada sebuah kebanggan ikut serta mengharumkan nama Republik Indonesia di mata dunia.
Dia menuturkan saat berada di Arab Saudi, awak KRI Dewaruci disambut penuh hangat oleh warga Indonesia yang tengah berada di sana. "Aku dipeluk anak-anak saudara kita di sana. Netes air mataku. Mereka rindu pulang tapi belum bisa, " katanya.
KRI Dewaruci, di Belawan Medan selama tiga atau empat hari ke depan. Setelah itu akan melanjutkan perjalanan ke Jakarta, dan berakhir ke Kota Surabaya.

Heri Surbakti

Orang-Orang "Penting" di Ekspedisi KRI Dewaruci Keliling Dunia (1) Supari, si Tukang Listrik yang Ahli Tambal Kapal




KRI Dewaruci saat tiba di Pelabuhan Belawan, Medan, Senin (1/10). Foto : Suryo Eko Prasetyo/Jawa Pos
Kesuksesan ekspedisi KRI Dewaruci keliling dunia hingga tiba kembali ke tanah air kemarin (1/10) tak bisa dilepaskan dari orang-orang "penting" di kapal latih TNI-AL itu. Salah satunya Serka Lis Supari. Wartawan Jawa Pos SURYO EKO PRASETYO yang ikut dalam pelayaran bersejarah tersebut menceritakan peran besar Supari.

= = = = = = = = =

SUPARI mengawali pendidikan di TNI-AL pada 1987. Sebagai orang desa, dia tidak pernah membayangkan akan menjadi prajurit matra laut.

Tapi, siapa sangka, lulusan STM YPP Bersubsidi Purworejo, Jawa Tengah, jurusan listrik itu akhirnya menjadi orang pertama di desanya yang diterima di TNI-AL. Dia benar-benar bangga. "Alhamdulillah, sekali daftar saya langsung katut (diterima)," kenangnya.

Ketertarikan Supari masuk TNI-AL sebenarnya bermula dari coba-coba. Sebab, selulus STM, dia menganggur tiga tahun. Saat itu dia "terdampar" di Jakarta dan tak kunjung mendapatkan pekerjaan. Dengan bekal ijazah sekolah kejuruan itulah, pria asal Desa Kledung, Kecamatan Banyuurip, Purworejo, tersebut ikut seleksi calon tamtama di Armada RI Kawasan Barat (Armabar) Jakarta.

Tapi, baru menyerahkan berkas saja, Supari sudah kena damprat panitia yang mendaftar. Waktu itu dia ditanya mengapa baru mendaftar setelah tiga tahun lulus sekolah. Supari menjawab sekenanya.

"Pas ditanya apa saja kegiatan saya sebelum mendaftar, saya bilang mblakrak dan dolan. Spontan saya langsung dibilang bego oleh petugas itu," ujar Supari, lalu terkekeh.

Pada masa itu persyaratan fisik atau postur yang proporsional, khususnya tinggi badan, belum ditetapkan minimal 165 cm seperti ketentuan sekarang. Karena itu, dengan tubuh kerempeng setinggi 162 cm, Supari tetap boleh ikut seleksi.

Dia sempat kurang percaya diri dengan kondisi fisiknya. Apalagi, jumlah pendaftar ketika itu lebih dari 6.000 orang. Sementara itu, siswa calon tamtama (catam) yang diambil hanya 60 orang. "Mungkin sudah takdir, saya yang kecil dan ndeso ini ternyata masuk di tahap pantukhir (penentuan terakhir)," imbuhnya.

Supari mengungkapkan, fisiknya kurus sebenarnya bukan karena kurang gizi. Tetapi, karena dia gemar berolahraga, khususnya lari jarak jauh (10 ribu meter dan maraton). Dia bahkan menjadi andalan sekolahnya dalam kejuaraan-kejuaraan lari tingkat kabupaten.

"Hampir tiap hari saya lari 5-10 km. Itu resep yang membuat tubuh saya selalu fit," terang pria yang genap 47 tahun pada 2 April lalu dengan bangga.

Pada Desember 1987 Supari menjalani pendidikan dasar militer di Pusdikdasmil Juanda, Sidoarjo, sekitar tiga bulan dan pendidikan kejuruan di Kobangdikal, Bumimoro, Surabaya, sekitar sembilan bulan. Ketika dinyatakan lulus dari pendidikan itu, dia dilantik sebagai anggota TNI-AL dengan pangkat kelasi dua di korps listrik.

Setelah itu, Supari langsung ditempatkan di KRI Dewaruci di bawah Satuan Kapal Bantu Armatim. Dia seangkatan dengan dua personel senior di kapal latih itu. Yakni, Bintara Utama Peltu SBA Johanes Satoro dan Sertu Bek Ainu Rofik. Johanes dan Rofik sejak dinas perdana di Dewaruci belum pernah bertugas di kesatuan lain.

Sementara itu, Supari pada 2006-2011 pernah mendapat kepercayaan memperkuat satuan lain. Dia bertugas di Divisi Pantai Satuan Kapal Amfibi Koarmatim Surabaya dan mengikuti proyek maintenance listrik kapal Sigma di galangan kapal Schadel, Flishingen, Belanda.

Di KRI Dewaruci, anggota korps listrik berada di bawah departemen mesin. Supari yang kini berpangkat sersan kepala menjadi bintara paling senior di departemen itu. Sudah 14 komandan kapal silih berganti menjabat sejak dia masuk kapal berumur 60 tahun tersebut. Selama menjadi awak kapal legendaris itu, dia pernah mengalami kejadian luar biasa yang hampir merenggut nyawanya.

Sehari menjelang berlayar ke Australia pada akhir 1997, dapur kapal di geladak tengah terbakar hebat. Penyebabnya, tungku pemanas dan penggorengan mengalami korsleting. Kebetulan Supari sedang jaga darat atau piket. Saking paniknya juru masak ketika itu, api yang berkobar disiram air laut. Kobaran api bukannya padam, melainkan malah tambah besar dan sulit dijinakkan.

"Kami berusaha mati-matian memadamkan kebakaran agar tidak merembet ke ruang lain," ungkap bapak Rifki Muhammad Yusuf, 16, dan Hanif Nur Ibrahim, 12, itu.

Setelah kebakaran bisa dikendalikan, tugas baru menantinya. Instalasi dan tungku listrik di dapur rusak berat. Supari dan juru listrik lain ketiban sampur harus melembur untuk memperbaiki peranti 10 ribu kilowatt itu. "Sebab, kapal dijadwalkan harus berangkat jam 10 esok paginya," tuturnya.

Supari tidak bisa membayangkan bagaimana jika perbaikan itu tak dapat selesai sesuai dengan harapan komandan kapal. Pasalnya, kegiatan Dewaruci dalam pelayaran selama empat bulan keliling Australia sudah terjadwal. "Beruntung, kami bisa menyelesaikan perbaikan ekstra itu satu jam sebelum kapal berangkat," cerita Supari.

Ekspedisi Dewaruci keliling dunia 2012 menjadi tantangan tersendiri bagi Supari. Sebab, kali ini Dewaruci berlayar dalam waktu sangat lama dan sangat jauh. Kapal latih TNI-AL itu melintasi jarak 27 ribu nautikal mil atau 50.000 kilometer selama 277 hari. Dalam pelayaran tersebut, Dewaruci mengarungi 24 pelabuhan di 13 negara dan 4 benua.

Supari sudah terbiasa bekerja dalam tekanan. Dalam kondisi darurat, dia tetap bisa tenang. Pasalnya, suami Ngatini tersebut memiliki banyak keahlian. Selain di bidang kelistrikan, dia ahli pertukangan, mekanik, bahkan tampil di mimbar untuk berdakwah. 

Ketika lambung kiri Dewaruci bocor di Boston, AS, Juli silam, Supari dipercaya untuk "membereskan". Dia lalu membuat pelat baja guna menambal kebocoran. Keterampilan dia memotong besi, menggerinda, dan mengelas tidak diragukan. Hasilnya sangat memuaskan. Hingga tiba di Pelabuhan Belawan, Medan, Senin (1/10) lalu, Dewaruci tak bocor lagi.

Kelebihan Supari dalam memperbaiki pendingin ruang (AC) juga tidak kalah oleh juru AC/fresh room. "Jam terbang beliau paling tinggi," puji juru AC/fresh room Kelasi Kepala Lis M. Irfan.

Di bidang kerohanian, Supari tergolong mahir berkhotbah. Dia sering dipercaya kru kapal menjadi imam salat dan berceramah saat bintara rohani (baroh) Pelda Bah Reza Nevyansyah berhalangan karena sakit. Supari beberapa kali tampil sebagai khatib salat Jumat maupun tarawih pada Ramadan lalu. "Ini amalan saya untuk menyampaikan kebenaran walaupun hanya satu ayat," imbuh jamaah majelis tafsir Alquran itu diplomatis.

Berkat berbagai prestasinya tersebut, Supari tak pernah tertinggal menjadi salah seorang kru andalan dalam berbagai misi pelayaran Dewaruci. Sebelum ekspedisi keliling dunia ini, dia pernah mengawal Dewaruci dalam pelayaran internasional perdana pada 1989 ke Malaysia dan Filipina; lalu keliling Australia (1991, 1998); Amerika (1999, 2000); serta Eropa (2003, 2005).

Dia berharap, seusai menyelesaikan tugas "penting" dalam ekspedisi Dewaruci kali ini, pangkatnya akan naik. "Mudah-mudahan naik menjadi sersan mayor," tutur tentara yang sudah mengabdi sekitar 24 tahun itu. (*/c10/ari)

Juara di American Tall Ship 2012, KRI Dewaruci Singgahi Belawan


Wahyudi Siregar - Okezone
Senin, 01 Oktober 2012 16:44 wib
KRI Dewaruci (nationalgeographics.co.id)
KRI Dewaruci (nationalgeographics.co.id)
MEDAN – Kapal layar kebanggaan Indonesia, KRI Dewaruci, akhirnya tiba di Tanah Air sekira pukul 14.00 WIB. Kapal yang tengah berlayar dalam rangka Opsail 2012 itu, telah keluar negeri sebanyak 40 kali dan bersandar pertama kali di Pelabuhan Lantamal I Belawan, Medan, Sumatera Utara, untuk dapat disaksikan masyarakat setelah memenangkan Kejuaraan American Tall Ship Race 2012, dan selanjutnya akan berlayar kembali menuju Surabaya.

Komandan KRI Dewaruci, Letkol Laut Haris Bima Bayuseto, mengaku bangga dapat mempertontonkan KRI Dewaruci pada masyarakat Medan. Dia berharap masyarakat dapat merasakan kebanggaan para pelaut Indonesia setelah meraih gelar juara untuk jenis kapal layar di ajang internasional tersebut.

“Alhamdulillah, kami sangat bangga dengan kapal ini. Kami pun ingin berbagi kebanggaan mendapat prestasi itu dengan masyarakat, karena di sejumlah negara lain kami juga disambut dengan sangat meriah. Kami berlabuh di sini dalam kerangka perjalanan dari perlombaan American Tall Ship Race 2012 yang merupakan pelayaran dari Savanah ke New York," paparnya.

Haris menyebutkan, Kapal yang dipimpinnya itu akan bersandar selama tiga hari di Belawan, dan masyarakat dipersilakan untuk melihat dari dekat kapal latih itu.

“Kita undang masyarakat untuk melihat dari dekat. Kapal ini kan tidak selalu ada di sini. Setelah berlayar 277 hari dari Surabaya ke Jayapura, Kwajalein (AS), Honolulu, San Diego (AS), Manzanillo (Meksiko), Panama, New Orleans (AS), Miami (AS), Savannah (AS), New York (AS), Norfolk (AS), Baltimore (AS), Boston (AS). Kemudian lanjut ke Saint John (Kanada), Porto (Portugal), Cadiz (Spanyol), Malta (Malta), Port Said (Mesir), Jeddah (Arab Saudi), Shalala (Oman), Colombo (Sri Lanka), dan ini tiga hari di Belawan, kami akan ke Jakarta, untuk kemudian berhenti di Surabaya,” bebernya.

Untuk diketahui, dalam pelayaran Opsail 2012 ini, Dewaruci diawaki 77 personel, termasuk kapten kapal. Sebelumnya 103 kadet Akademi Angkatan Laut juga menumpang kapal ini dari Miami menuju Boston. Namun, seluruhnya telah pulang terlebih dahulu menggunakan pesawat udara dari Boston menuju Indonesia.
(ris)

Siap Gelar ‘Openship’ di Dermaga Lantamal I Rangkaian 277 Hari Keliling Dunia, KRI Dewaruci Singgah di Belawan



(Analisa/m ali akbar) Kapal layar tiang tiga KRI Dewaruci saat sandar di Dermaga Mako Lantamal I Belawan dalam rangkaian 277 hari keliling dunia, Senin (1/10). Direncanakan kapal kebanggaan bangsa Indonesia ini menggelar ‘openship’ selama empat hari.
Belawan, (Analisa). Dalam rangkaian 277 hari keliling dunia, KRI Dewaruci menyinggahi Dermaga Mako Pangkalan Utama TNI AL I (Lantamal I) Belawan, Senin (1/10) siang. Direncanakan selama empat hari kapal layar tiang tiga kebanggaan Indonesia tersebut akan menggelar ‘openship’ bagi masyarakat Sumut.
Menurut Komandan KRI Dewaruci Letkol Laut (P) Haris Bima Bayuseto, kapal buatan Jerman yang mulai layar sejak tahun 1953 silam itu kini berusia 59 tahun. Di tahun 2012 ini KRI Dewaruci yang aktif mengikuti berbagai event internasional, berhasil menorehkan penghargaan bergengsi sekaligus juara di festival American Tall Ship 2012.

Dalam lawatan keliling dunia di 12 negara, meskipun usia kapal sudah relatif tua namun masih layak layar. "Ini merupakan pelayaran ke-40 yang telah dilalui KRI Dewaruci,"kata Bima yang disambut Wadan Lantamal I Kolonel Marinir Yuniar Ludfi dan jajaran Kadis Lantamal I.

Saat perjalanan muhibah ini, sambungnya, KRI Dewaruci membawa 103 kadet AAL dan sempat menghadapi ganasnya terjangan ombak setinggi 12 meter di Samudera Pasifik.

Disebutkan para kadet juga melakukan serangkaian acara menghibur di Kota New York. Salah satunya adalah dengan menggelar panggung hiburan dan artaksi Marching Band Genderang Suling Gita Jala Taruna.

Penampilan Kadet AAL tingkat II dilanjutkan rampak gendang yang berkolaborasi bersama band dan tari saman. "Penampilan mereka di atas panggung telah disediakan oleh panitia ‘Operation Sail’ (Opsail) 2012 dengan durasi waktu selama 45 menit,"paparnya.

Selama empat hari di Mako Lantamal I, KRI Dewaruci memberikan kesempatan kepada para pelajar di Sumut untuk naik ke atas kapal sekaligus mengenal lebih dekat kapal layar kebanggan bangsa Indonesia tersebut.

"Kami dengan senang hati memperkenalkan kapal layar yang memiliki segudang prestasi ini kepada masyarakat Sumut," tambah Bima didampingi Kadispen Lantamal I Mayor Marinir Hesronta Sinuhaji.

Nantinya setelah dari Belawan, KRI Dewa Ruci akan bertolak ke Jakarta dan kembali ke pangkalan di Surabaya. Sebelumnya mereka telah melayari berbagai negara luar seperti Meksiko, Portugal, Spanyol, Mesir, Arab Saudi, Oman, dan terakhir Srilanka.

Dia berharap KRI Dewaruci masih bisa terus berlayar mendekati usia ke 60 pada 15 Januari 2013 mendatang. Hal ini mengingat perawatan kapal ini masih cukup bagus. (maa)

KRI DEWARUCI SANDAR DI BELAWAN


 
Setelah melanglang buana mengelilingi dunia sejak 15 Januari 2012, KRI Dewaruci kembali memasuki Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan sandar di Pangkalan Utama TNI AL (Lantamal) I Belawan, Medan (1/10/12).
Penyambutan kapal legendaris di Belawan, dipimpin oleh Wadan Lantamal I, Kolonel Marinir Yuniar Ludfi beserta pejabat teras Lantamal I dan prajurit TNI AL lainnya serta satu peleton Satsik yang menyambut di dermaga. Para pejabat teras selanjutnya memasuki kapal dan di jamu di ruang salon sebagai tamu oleh Komandan KRI Dewaruci,beserta perwira dan Anak Buah Kapal (ABK) lainnya.
Etape ke-22 dari Colombo, Sri Lanka menuju Belawan dengan jarak tempuh 1.285 Nautical mil telah dilewati dengan selamat dengan mengarungi Samudera Hindia. Perasaan plong muncul ketika kapal layar milik TNI Angkatan Laut memasuki perairan Indonesia dua hari lalu (29/9/12) tepatnya pukul 16.00 dan disusul melewati pulau terluar NKRI yaitu pulau Weh.
Sebelum merapat di dermaga, di atas kapal dilaksanakan upacara pelaporan kenaikan pangkat, satu orang perwira kesehatan, Kapten Laut (K) dr. Bangun Pramujo. Upacara pelaporan pangkat dilaksanakan di lounge room perwira dipimpin oleh Komandan KRI Dewaruci, Letkol Laut (P) Haris Bima Bayuseto dilanjutkan foto bersama dan ucapan selamat di geladak H.
KRI Dewaruci akan berada di Belawan sampai tanggal 4 Oktober 2012 kemudian melanjutkan perjalanan menuju Jakarta.
Pelayaran tahun ini merupakan pelayaran paling lama dibandingkan pelayaran-pelayaran sebelumnya, tepatnya 277 hari atau lebih dari sembilan bulan. Rute yang ditempuh merupakan rute terjauh, lebih dari 27.000 Nautical mil selama hampir 60 tahun. Tetapi semangat 77 orang kru kapal dengan 16 layar ini tak pudar sedikitpun, banyak ABK yang mengatakan semangatnya sama seperti saat berangkat, delapan bulan silam bahkan banyak yang lebih semangat lagi diujung penugasan tahun ini.
Operation Sail 2012 (Opsail 2012) USA sebagai bagian dari pelayaran dapat diselesaikan dengan gemilang, misi diplomasi, edukasi dan promosi pariwisata Indonesia di luar negeri juga berjalan dengan sukses. Dalam hitungan hari lagi Dewaruci akan sampai di Surabaya sebagai pangkalannya yaitu Komando Armada RI Kawasan Timur.