Minggu, 05 Februari 2012


Menjaga Bahan Makanan Basah agar Bertahan Lama dalam Pelayaran Panjang
Sebelum Punya Pendingin, ke Mana-mana Bawa Es Balok
 Padang Ekspres • Sabtu, 04/02/2012 11:32 WIB • Suryo Eko P—Jayapura • 24 klik
Tertata Rapi: Sertu Bek Ainur Rofik di ruang penyimpanan bahan makanan.
Menjelajahi dunia dengan KRI Dewaruci butuh bahan makanan sehat untuk menjaga stamina. Itu menjadi tugas berat bagian logistik agar makanan awet dan segar selama pelayaran berbulan-bulan.

SEJAK dilepas dari Dermaga Porasko, Jayapura, pada Sabtu (28/1) hingga hari ini, Kapal Republik Indonesia (KRI) Dewaruci sudah delapan hari berlayar di laut lepas. Pada etape kedua menuju pangkalan militer Kwajalein di Kepulauan Marshall, Amerika, itu kapal produksi 1952 tersebut dijadwalkan selama sebelas hari nonstop mengarungi Samudra Pasifik. Suatu tantangan berat untuk berlayar sejauh 1.794 mil laut di salah satu samudra ganas.

Kendati waktu yang dibutuhkan untuk menuju persinggahan kedua tidak lebih dari dua minggu, para awak kapal telah membekali diri dengan kebutuhan bahan makanan basah yang cukup. Mereka belanja di Jayapura. Misalnya, lauk-pauk berupa daging sapi, daging ayam, tahu, tempe, ikan air tawar, dan ikan laut, serta berbagai jenis sayur-mayur.
Tidak tertinggal buah-buahan bervariasi yang biasanya dikonsumsi sebagai hidangan pencuci mulut setelah makan siang. Antara lain, jeruk, melon, dan semangka. ”Setiap sebelum sandar, kami sudah mengorder daftar belanja kering dan belanja basah agar bahan-bahan itu tidak sampai terlambat masuk kapal,” kata Kepala Urusan Perbekalan KRI Dewaruci Sertu Bek Ainur Rofik.

Agar bahan tetap awet dan segar saat dimasak atau dikonsumsi, terang Rofik, semua harus ditempatkan di ruang khusus. Di KRI Dewaruci, ruang itu terdapat di belakang ruang tidur kadet, geladak bawah. Namanya fresh room. JPNN yang mengikuti pelayaran melihat sendiri ruang seluas 2,5 meter x 9 meter itu. Menuju fresh room bisa melalui pintu yang menghadap anak tangga terbawah dari geladak tengah. Saat memasuki pintu besi kedap udara berukuran 1 meter x 2 meter tersebut, tampak instalasi pendingin ruang terpasang.

Ruang yang melebar itu masih dibagi lagi menjadi tiga ruang. Satu ruang berfungsi sebagai tempat penyimpanan bahan makanan kering. Agar tidak pengap, ruang yang berisi beras, terigu, mie kering, mi instan, dan belanjaan kering lain itu dilengkapi dengan kipas angin sirkulasi (exhaust fan). Sedangkan dua ruang lain berada di bagian lambung kiri kapal. Satu ruang digunakan untuk sayur dan buah. Suhu ruang yang dipenuhi kabut itu 5–10 derajat Celsius. Satu ruang lagi berfungsi membekukan daging dan ikan.

Temperatur ruang yang mirip dengan freezer raksasa itu minus 10–15 derajat Celsius. ”Itu suhu yang harus dijaga agar makanan tidak sampai membusuk,” tutur juru fresh room dan AC Kelasi Kepala Listrik M Irfan.

Selama dia bertugas di kapal yang hampir berumur enam dasawarsa itu, fresh room tersebut hampir tidak pernah mati. Mesin pendingin harus beroperasi saat sandar maupun sedang berlayar. Stabilitas posisi kapal pun menjadi tantangan agar mesin pendingin beroperasi maksimal.

Sebelum kapal itu dilengkapi pendingin ruang (sebelum 1970-an), ungkap dia, pendinginan menggunakan es balok dan garam. Cara itu tidak efektif karena es tidak bisa bertahan lama. Begitu es mencair, bahan makanan basah harus segera diolah agar tidak mubazir. Pada zaman-zaman itu beberapa kali pelayaran KRI Dewaruci ibarat kandang berjalan. Karena ingin menikmati ayam segar yang baru disembelih setelah berlayar berminggu-minggu, para taruna Akademi Angkatan Laut (AAL) membawa ayam hidup.

Bukan kenikmatan yang didapat. Bau kotoran unggas itu malah mengganggu awak lain. Dekatnya gudang penyimpanan bahan makanan basah dengan ruang tidur kadet menjadi tantangan tersendiri. JPNN yang penasaran tidur di kasur susun tiga dekat pintu fresh room merasakan tidak nyamannya istirahat di dekat gudang tersebut. (***)
[ Red/Redaksi_ILS ]

Rabu, 01 Februari 2012


Kru KRI Dewa Ruci Silahturahmi ke Penjabat Gubernur Papua

PASIFIC POST, JUMAT, 27 JANUARI 2012 09:52



Jayapura,– Provinsi Papua mendapat kunjungan kehormatan KM. Dewa Ruci yang tiba hari Rabu (25/1) kemarin di Pelabuhan Laut Porasko Jayapura.
Setibanya di Jayapura, kapal yang melegenda di Indonesia ini, langsung menyedot perhatian masyarakat yang berbondong-bondong ingin melihat dari dekat seperti apa isi dari kapal yang bakal berkeliling dunia tersebut.

Dengan di Komandani Letkol Laut Haris Bima, kapal tersebut direncanakan lepas landas keluar dari perairan Papua pada hari Sabtu mendatang. Namun, sebelum bergegas Komandan KRI Dewa Ruci, Letkol Laut Haris Bima dengan didampingi Wadan Lantamal X Jayapura, Kol Laut (P) Imron Junaedi, melakukan silahturamhi ke Penjabat Gubernur Provinsi Papua, DR. Drs. H. Syamsul Arief Rivai,MS, Kamis (26/1) di ruang kerja Gubernur.
“Jadi, kunjungan kesini kami mengantar komandan KRI Haris Bima bertamu dalam rangka kunjungan KRI Dewa Ruci di Papua. Ini wilayah NKRI terakhir yang disinggahi dan habis ini langsung singgah ke pelabuhan di luar negeri. Dan pertemuan didalam ruang Gubernur intinya kamin silahturahmi saja lalu diterima 5-10 menit dan tukar- menukar cinderamata,” jelas Wadan Lantamal X Jayapura, Kol Laut (P) Imron Junaedi, kepada pers, usai bertemu Gubernur Papua.
Sementara itu, Komandan KRI Dewa Ruci, Letkol Laut Haris Bima kepada wartawan mengatakan bahwa pihaknya melakukan kunjungan kehormatan yang selalu dilakukan setiap kali kapal (KRI Dewa Ruci) singgah atau sandar pada satu daerah.
“Kunjungan ini juga merupakan sebuah permohonan ijin sekaligus meminta restu dari Gubernur buat kita untuk pergi keluar ke daerah dari NKRI,” terangnya.
Ia mengatakan, pada hari Sabtu mendatang pihaknya berharap agar Penjabat Gubernur Papua dapat menghadiri acara cocktail party serta melepas KRI Dewa Ruci keluar dari perairan laut Indonesia.
“Namun apakah beliau (Gubernur) akan hadir di acara cocktail party dan pelepasan kapal nanti, belum ada kepastian dan kita hanya berharap,”ujarnya.
Sementara mengomentari keberadaan pulau Papua, Komandan KRI Dewa Ruci memuji keindahan pulau Papua yang memiliki karakteristik khas dengan budaya dan masyarakatnya yang ramah.
“Selama ini saya juga sudah sering ke Papua, dan komentar saya tentang daerah ini cukup bagus dan kondusif suasananya. Masyarakat juga sangat antusias buktinya banyak warga yang menuju ke kapal.
Banyak sekali interaksi antara masyarakat dengan kita dan kami sangat senang sekali,” tukasnya.
Sekedar diketahui, KRI Dewa Ruci dilepas pada tanggal 15 Januari oleh Kasal dan Wakil Menteri Pariwisata dari Surabaya dan tiba di Jayapura, Rabu kemarin.
KRI Dewa Ruci dijadwalkan lepas dari perairan Papua pada hari Sabtu mendatan, menuju Honolulu, San Diego, Meksiko, Panama, Pantai Timur Amerika, menyebrang ke Atlantik, Eropa, Arab dan kembali ke Indonesia yang ditargetkan pada 17 Oktober mendatang. Sesuai perjalanan tersebut akan memakan waktu selama 10 bulan atau 277 hari.

Laporan: Bams



Kalteng Pos, Kamis, 26 Januari 2012 11:15:04 WIB
JAYAPURA - Setelah 11 hari mengarungi laut, KRI Dewaruci akhirnya tiba di Jayapura, Papua. Ini adalah etape pertama dari muhibah mengelilingi empat samudera yang akan dilakoni kapal legendaris itu. Jarim jam di ruang anjungan KRI Dewaruci menunjukkan pukul 04.00 dini hari. Kapal berusia 60 tahun itu sudah melewati batas garis di utara alur menuju Dermaga Porasko, Jayapura. Berarti, waktu kedatangan Dewaruci pada persinggahan di Jayapura lebih cepat dari rencana. Penyambutan oleh jajaran Pangkalan Utama TNI-AL (Lantamal) X di Jayapura dijadwalkan pukul 08.00. Lantaran masih dini hari, kapal sengaja memutar di sisi timur dengan laju perlahan. Banyaknya kapal yang sedang parkir di jalur itu membuat Dewaruci tidak memaksakan diri langsung sandar. Selain pandangan mata terbatas oleh suasana gelap, risiko senggolan dengan kapal lain memungkinkan terjadi. Apalagi dalam pelayaran larut malam itu hujan turun lumayan deras. Di sisi lain, dasar dermaga yang bersebelahan dengan bagian belakang gedung DPRD Papua itu mengandung banyak lumpur. Lemahnya daya cengkram jangkar membuat Dewaruci sengaja tidak lego jangkar. Kapal sebatas diikatkan dengan sejumlah penambat di tepi dermaga. "Kebijakan komandan sandar mendekati waktu penyambutan. Peran pandu (pemanduan sandar) saat gelap bakal lebih sulit," kata Kepala Divisi Navigasi Lettu Laut (P) Mario Marco kepada Jawa Pos di ruang anjungan dengan lampu penerangan yang samar-samar itu. Berlayar ke Jayapura mengingatkan Mario pada kampung halamannya di Serui, Papua. Meski hanya sandar tiga hari, perwira yang sebelumnya bertugas di KRI Soputan-923 itu berharap bisa melepas kerinduan dengan keluarga. Sebab, setelah ini Mario akan melanjutkan pelayaran sampai Oktober mendatang. "Sudah kontak keluarga. Mereka sudah menunggu di dermaga," katanya. Kapal sempat bergerak menjauh ke timur sekitar 10 mil. Dari buritan, terlihat kelap-kelip pemandangan Kota Jayapura yang berkontur perbukitan di sisi tenggara. Setelah itu, Dewaruci berbalik menuju arah lampu-lampu tersebut. Suara azan Subuh yang dilantunkan perwira pasukan katak Lettu Laut (P) Hairul Aziz menggema di seluruh bagian kapal. Karena lantai geladak utama masih basah, dia menginformasikan agar ibadah tersebut dilakukan sendiri-sendiri di kamar. Sinar mentari kemudian perlahan mulai menampakkan di ufuk timur. Bayangan kapal mulai terlihat. Kedatangan Dewaruci ke ibukota Papua itu merupakan napak tilas perjalanan kapal layar latih TNI-AL ke Amerika dengan rute transit yang hampir sama. Pada muhibah internasional 2007, Dewaruci juga menyambangi Papua sebelum bertolak ke Kwajelein, Amerika Serikat (AS). "Banyak yang berubah. Pembangunan di sekitar kawasan dermaga begitu pesat," komentar Bintara Utama (bama) Peltu Sba Yohanes Satoro. Tentara dari Purwokerto itu mengungkapkan, selama bertugas hampir 21 tahun di Dewaruci, dia beberapa kali ke Jayapura. Selain lima tahun lalu, pada 2000 pria berkumis tipis yang familier dipanggil bama itu menilai, Jayapura sudah berbeda jauh. Ya, kawasan di sekitar dermaga memang sudah dihiasi banyak bangunan. Beberapa hotel jaringan internasional berdiri kukuh. Sementara itu, bibir dermaga dipenuhi banyak bangunan permanen maupun semi permanen. Yohanes ingat, di salah satu sudut dermaga biasanya dipakai untuk tempat memancing. "Kami dulu saat sandar, di sini biasanya memancing sotong (ikan semacam cumi-cumi). Tapi, sepertinya sekarang sudah berubah menjadi dermaga peti kemas," ujarnya. Sinar matahari mulai marangkak naik. Dari kejauhan terlihat sebuah gedung dua lantai beratap biru. Di sebelah kanannya terlihat tanker besar bertulisan Satrol Lantamal (Satuan Patroli Pangkalan Utama TNI-AL) X. Itu merupakan salah satu unit satuan keamanan laut di bawah Armada RI Kawasan Timur (Armatim). Di pinggir dermaga terlihat para bintaran dan tamtama berbaris menunggu tali penghubung pengait tambatan dilempar kru kapal. Proses pemanduan yang berlangsung sekitar 30 menit berjalan lancar. Dewaruci sandar dengan sempurna. Prosesi penyambutan terlihat sederhana. Tidak ada tenda di halaman belakang markas satuan matra laut itu. Anak tangga kemudian diturunkan. Komandan KRI Dewaruci Letkol Laut (P) Haris Bima Bayuseta beranjak melewati anak tangga besi bercat putih itu sembari memberikan hormat. "Selamat datang di Jayapura," kata Wakil Komandan Lantamal X Kolonel Laut (P) M. Imron Junaedi. Setelah mengarungi lautan selama 11 hari nonstop dari Dermaga Ujung, Surabaya mulai (15/1) lalu, para awak Dewaruci bisa beristirahat di darat. Sandar selama tiga hari digunakan untuk perbaikan ringan dan acara promosi terbuka bagi pelajar dan masyarakat selama dua hari di geladak utama. Pada Sabtu (28/1) lusa, Dewaruci kembali mengarungi Samudera Pasifik menuju Kwajelein dengan durasi perjalanan selama 11 hari. (*/ca/jpnn)


Masuk Garis Lintang 0 Derajat, Semua Wajib Mandi Khatulistiwa Merayap Kelilingi Geladak, Pangkat tak Berarti
 Padang Ekspres • Selasa, 24/01/2012 12:06 WIB • Suryo Eko P—Sorong • 276 klik


Laju KRI Dewaruci Sabtu petang (21/1) mendekati perairan Sorong, berada di garis lintang 0,125 derajat. Lantaran garis lintang hampir tepat 0 derajat, suasana di geladak J (tengah) KRI Dewaruci terlihat beda dari biasanya. Para bintara dan tamtama anak buah kapal (ABK) membasahi lantai dari kayu jati di sepanjang lorong dengan air laut. Lalu,  membubuhkan sabun colek di beberapa titik.

Lorong selebar 1,5 meter itu mengelilingi dua kamar tidur perwira, lounge room kadet, kamar mandi bintara-tamtama, lounge room bintara-taruna, dan dapur. Panjang satu putaran sekitar 40 meter. Pemandangan tersebut menjadi tanda-tanda buruk bagi penumpang Dewaruci yang baru pertama berlayar dengan kapal legendaris tersebut. JPNN bersama 18 penumpang lain termasuk yang bakal ”dikerjai” oleh kru Dewaruci.

Di antara 19 penumpang baru itu, ada dua perwira berpangkat kapten dan dua anggota Komando Pasukan Katak (Kopaska). Yakni, Kapten Laut (E) Romsi Bakti Malios, Kapten Laut (KH) Sapto Budiarso, Serka Mes Sapto Waskito, dan Kopda Ttu M Ali. Selebihnya adalah bintara-tamtama senior maupun junior yang harus melepas tanda pangkat saat menjalani ”pembaptisan”.

Karena terasa janggal, kru umumnya tutup mulut saat ditanya ada apa gerangan. Sejam setelah shalat Magrib dan Isya yang dijamak di geladak H (atas), dari pengeras suara yang terdengar sampai seluruh geladak kapal, 19 nama tersebut diumumkan agar berkumpul di ruang tidur kadet geladak K (bawah). Wajah tegang terlihat dari 16 personel TNI matra laut yang berpakaian dinas harian di geladak pengap itu.

Tidak tampak di antara mereka para kadet yang mestinya ikut dalam pelayaran. Sebab, para kadet memang belum diikutkan dalam pelayaran itu karena sedang mengejar materi kelas di AAL.  Beberapa menit kemudian, terdengar jeritan-jeritan makhluk dasar samudra melalui pengeras suara.

Suasana kapal berubah menjadi menyeramkan. Apalagi, lampu-lampu dipadamkan. ”Ha... ha... ha... Mau lari ke mana kau pelaut penakut, kuman laut, belut, pencemar laut,” ujar suara menggema dan menyeramkan itu. ”Ha... ha... ha... Mau ke mana kau wartawan? Salah sendiri mau ikut pelayaran ini,” lanjutnya dalam suara berat.

Kemudian, 19 orang tersebut diperintah untuk merayap di lantai kapal yang sudah licin oleh sabun colek. Semua diinstruksi merayap mengelilingi lorong geladak tengah sambil disiram air laut melalui selang pompa. Empat kali mereka diminta mengelilingi lorong tersebut. ”Biar tahu kalian setiap sudut kapal,” kata yang terdengar dari pengeras suara.
Setelah itu, para perwira dan bintara-tamtama dari seluruh korps TNI-AL dan wartawan diminta naik ke dek tengah. Di tempat yang biasa dipakai shalat tersebut, penumpang baru Dewaruci diperintah merayap mengelilingi geladak atas sekali putaran. Guyuran air laut melalui dua selang pompa berkecepatan tinggi membuat mata terasa pedih. Setelah dibariskan, semua yang ”dibaptis” mendapatkan pukulan ringan di perut.

Setelah itu, datang Davy Jones, utusan sang penguasa lautan Dewa Neptunus. Davy Jones yang diperankan Kepala Divisi Mesin Lettu Laut (T) Alfredo Panatara Purba menemui Komandan KRI Dewaruci Letkol Laut (P) Haris Bima Bayuseto. Alfredo menanyakan maksud pelayaran kapal yang membawa para pelaut yang belum disucikan sebagai keluarga besar dasar lautan.

Pihaknya bersedia menerima pelaut-pelaut tersebut menjadi putra Neptunus setelah dimandikan pada malam itu dan melalui ritual khusus besok paginya. ”Ini upacara penguasa tujuh samudra raya oleh Dewa Neptunus, Dewi Amphitrite, dan para penggawanya. Jangan sampai dewa kami murka,” tegasnya.  (***)
[ Red/Redaksi_ILS ]



Awak KRI Dewaruci saat Masuki Hari Pesiar
Malam tanpa Lampu, tapi Setel Lebih Kencang
 Padang Ekspres • Senin, 23/01/2012 13:02 WIB • Suryo Eko P—KRI DEWARUCI • 294 klik
HARI PESIAR: Kadiv Eka KRI Dewaruci Lettu Laut (E) Risman (kiri), Perwira Pelaks
Setiap Sabtu dan Minggu di jajaran TNI-AL merupakan hari  pesiar (hari tenang). Bagi sebagian besar kru KRI Dewaruci yang sedang menjalani muhibah keliling dunia hampir sepuluh bulan, hari yang biasanya tenang untuk istirahat ketika di darat tidak berlaku.

JAM dinding di anjungan KRI Dewaruci terlihat menunjukkan pukul 07.00 WIT. Jika pada Senin–Jumat selalu dilaksanakan apel pagi sejak Dewaruci bertolak dari Dermaga Ujung, Surabaya, minggu lalu, akhir pekan kemarin (21/1) apel tidak dilakukan. Apel siang yang biasa dilakukan selama lima hari kerja pada pukul 15.15 tidak berlaku pada hari pesiar tersebut.

Kendati hari relatif santai, seluruh kru tetap melaksanakan tugasnya sebagaimana ketentuan dalam Peraturan Dinas Dalam (PPD) Khas TNI-AL secara khidmat. Beban kerja selama Sabtu-Minggu di empat departemen satuan kapal bantu Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim) itu bisa dibilang tidak mengendur.

Misalnya, departemen mesin yang diawaki Mayor Laut (T) Fahri Syah Putra dan departemen logistik yang dipung gawai Lettu Laut (S) Kustanto. Kapal dituntut tetap melaju sesuai dengan kemampuan agar target tiba di persinggahan pertama di Jayapura pada Rabu (25/1) tetap tepat waktu.
Kebutuhan makan tiga kali sehari 80-an penumpang yang terdiri atas para perwira, bintara, dan tamtama, serta pendukung wajib dipenuhi. Jajaran yang terlihat lebih setel kencang dari dua departemen yang mengurusi bagian jeroan tersebut saat hari pesiar adalah departemen navigasi dan operasi serta departemen bahari.

Dalam perjalanan hari ketujuh Dewaruci dari Laut Seram menuju Selat Salamati kemarin, kapal latih itu masih diguncang ombak yang kurang bersahabat. ”Biasanya mendekati Samudra Pasifik memang karakter ombak tidak bisa tenang,” ungkap Kepala Departemen Navigasi dan Operasi KRI Dewaruci Kapten Laut (P) Suroto.
Kondisi kapal yang terobang-ambing lantaran arus air laut mendekati samudra cenderung tidak ada penghalang. Menjelang laut lepas, ombak bisa lebih tinggi ketimbang perairan yang berada di antara kepulauan. Apalagi, ombak di samudra yang jauh dari daratan. Suroto yang mengomando divisi navigasi, divisi elektronik, dan divisi komunikasi mengatakan harus tetap siaga meski pada hari pesiar.

Seperti hari-hari biasanya, jam jaga laut mereka selama sehari di atas kapal delapan jam dibagi dua termin. Yakni, empat jam pada pagi (08.00–12.00) dan empat jam pada malam (20.00–24.00). Begitu juga halnya dengan sif siang (12.00–16.00) dan dinas jaga larut malam (24.00–04.00). Ada juga yang kebagian sif petang hari (16.00–20.00) plus dini hari (04.00–08.00).

Tantangan terberat di departemennya, menurut entara dari Sukoharjo itu, ketika berlayar mulai pertengahan waktu petang pukul 18.00 hingga pagi pukul 06.00. Pada jam pelayaran itu, kapal berjalan di tengah kegelapan. Penggunaan lampu sorot seperti untuk mobil jalan di darat saat hari mulai gelap, berdasar aturan pelayaran internasional dan peraturan pencegahan tabrak laut (PPTL), tidak diperkenankan.

Satu-satunya petunjuk penerangan eksistensi kapal berasal dari lampu navigasi yang pancarannya tidak terlalu terang. Berbagai cara memandu kapal dilakukan, antara lain, melalui peranti radar dan pengawas dari divisi bahari (departemen bahari).

Pengawas jaga laut tersebut menjadi kepanjangan mata secara visual tentang apa saja yang ada di jalur kapal berlayar. ”Selain manual melalui petugas yang menjaga di haluan kapal (dekat cocor), harus ada serangkaian back-up. Sebab, kemampuan pengawas sebagai manusia sangat terbatas,” lanjut perwira yang genap berusia 36 tahun pada 12 Desember 2011 itu.

Lettu Laut (P) Bahari Sugeng Haryanto menam bahkan, pelayaran di alur padat pada hari pesiar justru membutuhkan kesiagaan ekstra. Sebab, pada akhir pekan itu, jumlah kapal yang berlayar semakin banyak. Selain menghindari jalur dangkal untuk menghindari kapal kandas, petugas jaga harus awas agar kapal tidak saling bertabrakan.
”Walaupun lautan terhampar begitu luas, mengapa insiden kapal bertabrakan di laut masih saja ada, itu terjadi karena kurang awasnya petugas,” tutur arek Suroboyo yang membawahkan divisi bahari, layar, senjata bawah air, dan senjata atas air itu.

Dalam kondisi cuaca buruk seperti hujan deras yang mengguyur Dewaruci sepanjang siang kemarin, visualisasi pengawas laut sempat terganggu. Selain dibekali uniform antiair, personel dari korps pelaut divisi bahari itu harus memiliki stamina prima.
Tempat mereka bekerja di haluan membuat para juru bahari tersebut selalu diterpa angin. Jika ombak sedang ganas, mereka ibarat bumper yang terkena dampak langsung dari gulungan ombak.
”Pesiar di sini ya tetap jaga laut. Kalau sudah sandar, baru bisa pesiar yang sebenarnya,” timpal Juru LayarSerda Bah Umar Sabat. Meski bertugas mengawasi operasional tiang tengah Dewaruci, tentara dari Kupang yang bergabung di kapal layar latih sejak 1997 itu selalu menikmati bagian haluan.

Di tempat jaga dekat patung Dewaruci atau tokoh pewayangan Bima yang ditempatkan di bawah cocor, Umar mengaku matanya lebih terbuka terhadap ciptaan Tuhan. ”Saya lebih banyak bersyukur dan menyadari bahwa kita (manusia, Red) itu sangatlah kecil saat di tengah luasnya lautan,” ujar penghobi burung kicau yang sebelumnya bertugas di KRI Ki Hajar Dewantara itu. (*/c4/Lk)
[ Red/Redaksi_ILS ]




Kalteng Pos, Jumat, 20 Januari 2012 11:28:04 WIB
LAUT BANDA - Laju KRI Dewaruci mengarungi samudera mulai mendapat tantangan. Pelayaran hari kelima dari Kepulauan Wakatobi menuju Laut Banda disambut hujan deras disertai gelombang setinggi semeter sebelum apel pagi kemarin (20/1). Itu hujan pertama yang mengguyur Dewaruci sejak dilepas KSAL Laksamana TNI Soeparno dari dermaga Ujung, Surabaya pada Minggu (15/1) lalu. Badai ganas khas perairan itu turut menyapa kapal layar latih TNI-AL berumur 60 tahun itu. Meski sempat digoyang-goyang sampai Dewaruci oleng (pitch) ke kanan-kiri sampai kemiringan 10 derajat. Sedangkan kemiringan ke depan-belakang (roll) sampai 20 derajat Perjalanan menuju finis etape perdana di Jayapura yang dikalkulasikan tiba Rabu (25/1) terus berlanjut. "Ini baru perkenalan. Selebihnya bisa lebih dari ini (lebih gawat, Red)," kata Kepala Divisi Bahari KRI Dewaruci Lettu Laut (P) Sugeng Haryanto. Dia menjelaskan, kendala di atas laut harus diubah menjadi potensi. Seperti laju angin pada penghujung hujan akan berakhir berberak dari barat laut. Di sisi lain, arus laut menuju timur laut. Klop dengan alur Dewaruci menuju Jayapura melalui Laut Seram yang dijadwalkan dilalui sore ini. Alhasil, untuk menambah kecepatan mesin yang rata-rata hanya mampu 7 knot, dibentangkan dua dari total 16 layar. Layar dastur besar (layar segi tiga terbawah di antara tiang pertama dan tiang tengah, atau biasa disebut tiang 12-mizzen top sail) dan layar tringket (layar persegi terbawah di tiang depan, tiang nomor 9 atau fore sail). Kecepatan kapal setelah dua layar tersebut berkembang sempurna berangsur-angsur bertambah. sampai 8,5 knot. "Kebetulan kecepatan angin relatif tidak lebih dari 5 knot. Lumayan untuk peran layar (latihan kru membuka layar)," terangnya. Kebetulan, lanjut Sugeng, layar yang terpasang di Dewaruci kini merupakan layar yang masih gres. Layar berbahan kain dakron tersebut diimpor dari Inggris. Pada sorenya, layar teringket digulung. Menurut Komandan KRI Dewaruci Letkol Laut (P) Haris Bima Bayuseto, arah angin yang berhembus kurang signifikan menambah kecepatan kapal yang direncanakan keliling dunia di empat benua itu. "Kami perkirakan arah angin berlawanan. Laju kapal akan semakin lambat," jelas Bima, sapaan familiernya. Akibat hujan deras sepanjang pagi-siang, tidak ada kegiatan rutin selain peran buka layar seperti pada empat hari sebelumnya. Misalnya, peran kebakaran (simulasi pemadaman api ketika kapal terbakar), peran peninggalan (simulasi menjelang kapal tenggelam), maupun peran kemudi darurat, dan latihan perang. Sedangkan latihan kesenian tradisional tetap digeber di atas geladak atas pada sorenya memanfaatkan cuaca cerah sebelum waktu salat Maghrib berjamaah.(sep/jpnn)

Suka Duka Para Lajang Awak KRI Dewaruci
Jadwal Lamaran Berantakan, Nikah pun Ditunda
 Padang Ekspres • Jumat, 20/01/2012 11:37 WIB • Laporan Suryo Eko Prasetyo • 183 klik
DEMI NEGARA: Lettu Laut (K) dr Bangun Pramujo (foto kiri) dan Kelasi Dua Agung P
Tidak bertemu keluarga dan orang-orang tercinta dalam waktu lama menjadi konsekuensi tersendiri bagi awak KRI Dewaruci. Itu pula yang dialami Kelasi Dua Agung Pujiono dan Lettu Laut (K) dr Bangun Pramujo.

FOTO mesra Agung Pujiono dan Dwi Lestari tidak pernah lepas dari dompet loreng khas tentara yang dibawanya. Dengan pakaian khas anggota TNI-AL, Agung berdampingan dengan sang kekasih yang hendak dinikahi. Foto itu menjadi penawar kangen Agung selama berlayar hampir sepuluh bulan dengan KRI Dewaruci.

Sebagai tentara lajang yang bertugas di Kesatuan Kapal Bantu Ar mada RI Kawasan Timur (Satbanarmatim), waktu Agung banyak dihabiskan di atas kapal. Tidak hanya saat jam dinas mau pun waktu jaga (tiap hari hingga pukul 18.00), tidur di kapal atau yang biasa disebut tidur dalam harus dilakoni personel yang masih bujang.

Lantaran merasa siap berumah tangga, prajurit kelahiran Salatiga, Jateng, 21 November 1989, itu sudah merencanakan pernikahan pada pertengahan April 2012. Masing-masing keluarga sudah saling sepakat. “Saya kenal Dwi sejak awal masuk SMK di sekolah yang sama. Kami pacaran mulai kelas III, setelah jadian dalam acara pendakian pencinta alam di Gunung Ungaran pas tahun baru 2008,” kenang tentara yang bertugas di satuan KRI Arun-903 itu.

Perkenalan Agung dengan Dwi dirajut di bangku SMK Texmaco, Semarang. Agung duduk di jurusan informatika, sedangkan kekasihnya di jurusan tekstil. Perjuangan Agung untuk menaklukkan hati Dwi tidak gampang. Tidak hanya merayu sampai menyiapkan segala keperluan mendaki. Tetapi, juga diperlukan nyali untuk meluluhkan hati orangtuanya agar mendapat izin mendaki gunung sampai bermalam.

Sinyal hijau didapat setelah Agung mampu meyakinkan sang bapak bahwa dirinya bertanggung jawab “mengawal” keselamatan Dwi. “Teman yang lain nggak diberi izin ayahnya. Kebetulan saya kok boleh,” ujar kelasi yang menjabat juru elektronika dan navigasi itu. Hubungan kasih tersebut pun terus berlanjut hingga orangtua Dwi menyatakan tidak berkeberatan putrinya dinikahi Agung.

Rencana pernikahan pun mulai dipersiapkan anak sulung di antara dua bersaudara itu. Karena membutuhkan proses panjang untuk pengurusan administrasi, misalnya mengantongi izin komandan dan lulus serangkaian tes, Agung baru berencana menghadap komandannya pada November 2011.

Jika izin dari pimpinannya turun, Agung semula menjadwalkan melamar Dwi pada Desember lalu. Tetapi, skenario yang sudah dia susun berantakan. Turunnya telegram rahasia dari panglima Armatim pada 3 Oktober tahun lalu membuat dia sempat bimbang terhadap rencana berkeluarga dalam waktu dekat. Namanya masuk daftar personel KRI Arun-903 yang diperbantukan ke KRI Dewaruci.

Sebagai tentara, Agung pantang menolak perintah. Di sisi lain, sebagai warga negara, dia punya hak seperti menikah. Kebetulan, jadwal nikah yang direncanakan berbenturan dengan agenda Dewaruci ke Amerika Serikat (AS).
Selama April nanti, Dewaruci masih melakukan perjalanan etape ke-6 dari Panama–AS. Total etape yang ditempuh kapal legendaris itu adalah 24 etape.
Kapal yang berlayar perdana pada 1953 tersebut dijadwalkan baru kembali ke Dermaga Ujung, Surabaya, pada 17 Oktober 2012. “Untungnya, pihak keluarga Dwi bersedia mengerti. Akhirnya, antar keluarga sepakat menunda lamaran dan akad nikahnya setelah saya pulang Oktober nanti,” tutur Agung.

Bagi Agung, pelayaran Dewaruci kali ini bakal menjadi bagian dari sejarah hidupnya. Sejak lolos tes masuk TNI-AL pada 2008 dan bertugas di KRI Arun, dia belum pernah melakoni pelayaran internasional. Tugas operasi militer sebatas wilayah perairan Kalimantan Timur dan Sulawesi Selatan selama tiga bulan. Di sisi lain, masuk tentara merupakan salah satu obsesi ayahnya, Suwarno, yang berdinas di Korem 073 Makutarama, Salatiga, dengan pangkat kopral kepala.

Kondisi keluarganya terbatas secara ekonomi. Terutama setelah Suwarno mengalami kecelakaan tahun lalu, status kedinasannya dipersingkat. Ibunya, Latifah, hanya seorang ibu rumah tangga. “Mungkin tidak sampai dua tahun lagi bapak dipensiun dini. Saya diharapkan meneruskan karirnya sebagai tentara,” ucap dia.

Ada kesan lain yang bakal Agung dapat dari pelayaran Dewaruci. Per 1 Oktober mendatang pangkat balok di lengannya bertambah satu. Yaitu, naik dari kelasi dua menjadi kelasi satu setelah surat penetapannya menjadi personel TNI-AL genap empat tahun.

“Harapan bapak terhadap saya menjadi tentara agar bisa hidup berkecukupan dengan pangkat dan jabatan yang lebih tinggi dari bapak,” ucapnya.

Selain Agung, kru Dewaruci yang harus menunda jadwal pernikahan adalah Lettu Laut (K) dr Bangun Pramujo. Lulusan perwira karir 2008 itu terpaksa mengundur rencana menikahi Fidelia Catherine. Penundaan tahun ini merupakan kali kesekian dia putuskan.

Perkenalan Bangun dengan seorang guru Yayasan Pendidikan Musik (YPM) Bintaro itu terjalin di Jakarta. Sebelum dimutasi ke Armatim mulai Juni 2010, alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, Semarang, tersebut berdinas di Armabar (Armada RI Kawasan Barat).

“Penugasan kali ini bisa menjadi ujian kesetiaan kami. Sebelumnya kami antara putus-nyambung,” canda perwira kelahiran Pekalongan, Jateng, yang akan genap 30 tahun pada 7 November. Selama bertugas di Armatim, Bangun selalu menjadi ujung tombak tim kesehatan di setiap satuan kapal.

Bangun merupakan dokter langka di lingkungan TNI-AL yang mengantongi brevet perwira dari satuan kapal selam. Kenaikan pangkat dari letnan dua menjadi letnan satu dia peroleh dalam pelayaran. “Kalau setahun bisa berlayar sampai tiga kali, kapan jadinya,” ujarnya.

Misi Kartika Jala Krida dengan Dewaruci kali ini merupakan yang kedua bagi Bangun. Tahun lalu dia mengawal ratusan ABK dan kadet ke Guangzhou, Tiongkok, selama 52 hari.
Kendati tidak menyebut terperinci tanggal maupun bulan revisi jadwal menikahnya, dia mematok 2012 merupakan toleransi terakhir.  Bangun mengaku sering disindir keluarga karena belum berumah tangga hingga usia menjelang kepala tiga.

Apalagi, mendekati momen Imlek yang biasanya banyak keluarga dia yang saling kunjung. “Pokoknya, kawin tahun ini sepulang dari pelayaran Dewaruci,” tegasnya. (***)
[ Red/Redaksi_ILS ]